Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) merilis hasil Survei Profil Internet Indonesia 2026 yang memotret tingkat penetrasi internet, perilaku pengguna, pola akses digital, keamanan siber, hingga perkembangan layanan internet tetap (fixed broadband) di Indonesia.
Dalam survei tersebut, APJII mencatat 81,7 persen penduduk Indonesia telah mendapatkan akses internet. Angka itu setara 235.261.078 jiwa dari total populasi 287.303.234 jiwa. Ketua Umum APJII Muhammad Arif menyampaikan penetrasi internet 2026 meningkat dibandingkan 2025 yang berada pada 80,66 persen.
Survei juga mencatat pertumbuhan pelanggan internet tetap. Jumlah masyarakat yang berlangganan fixed broadband mencapai 99.515.436 jiwa, tumbuh 3,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Mayoritas pelanggan internet tetap menggunakan layanan internet kabel/fiber dengan porsi 37,9 persen.
Dari sisi wilayah, Pulau Jawa masih menjadi kontributor terbesar pengguna internet nasional. Penetrasi internet di Jawa mencapai 85,95 persen dengan kontribusi pengguna sebesar 58,24 persen. Wilayah lain mencatat variasi tingkat penetrasi dan kontribusi pengguna, yakni Kalimantan dengan penetrasi 80,40 persen dan kontribusi 6,20 persen; Sumatera 78,24 persen dan kontribusi 20,74 persen; Bali dan Nusa Tenggara 78,14 persen dan kontribusi 5,26 persen; Sulawesi 72,58 persen dan kontribusi 6,62 persen; serta Maluku dan Papua 69,74 persen dan kontribusi 2,94 persen.
APJII menilai data tersebut menunjukkan pemerataan akses internet terus berkembang, meski kesenjangan digital antarwilayah masih menjadi pekerjaan rumah. Internet juga disebut kian melekat dalam aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, hingga pelayanan publik, sehingga perlu didukung pemerataan infrastruktur, peningkatan kualitas layanan, serta penguatan literasi digital.
Berdasarkan demografi, penetrasi internet pada laki-laki tercatat 83,95 persen dengan kontribusi 50,03 persen. Sementara perempuan memiliki penetrasi 79,79 persen dengan kontribusi 49,97 persen, yang menunjukkan kesenjangan akses internet berdasarkan gender semakin kecil.
Jika dilihat dari tempat tinggal, wilayah urban mencatat penetrasi 84,75 persen dengan kontribusi 60,59 persen. Adapun wilayah rural memiliki penetrasi 78,18 persen dengan kontribusi 39,41 persen.
Survei juga menunjukkan korelasi antara pendidikan dan penggunaan internet. Penetrasi tertinggi tercatat pada kelompok pendidikan perguruan tinggi sebesar 92,49 persen, disusul SMA/SMK sederajat 90,44 persen, SMP sederajat 82,48 persen, serta tidak sekolah/SD sederajat 74,84 persen.
Dari kelompok generasi, penetrasi internet tertinggi berada pada Gen Z sebesar 89,02 persen dan milenial 90,34 persen, mencerminkan dominasi generasi muda dalam pemanfaatan teknologi digital. Dari sisi aktivitas, kelompok masyarakat yang bekerja menjadi kontributor penggunaan internet terbesar dengan penetrasi 84,9 persen.
Terkait alasan penggunaan internet, aktivitas komunikasi dan jejaring sosial menjadi faktor terbesar dengan persentase 19,9 persen. Berikutnya hiburan digital seperti streaming dan game sebesar 19,7 persen, pencarian informasi dan berita 19,6 persen, serta transaksi e-commerce dan layanan digital 18,7 persen. Temuan ini menggambarkan internet semakin penting dalam aktivitas sosial sekaligus ekonomi masyarakat.