Di tengah derasnya arus konten digital, banyak keluarga muda kembali membiasakan aktivitas membaca nyaring untuk anak. Metode ini dipilih sebagai cara sederhana membangun kedekatan emosional sekaligus menumbuhkan minat baca sejak dini.
Kebiasaan membaca nyaring dinilai tidak hanya membantu anak mengenal buku, tetapi juga melatih kemampuan menyimak, memperkaya kosakata, dan memperkuat komunikasi dalam keluarga.
Hal tersebut mengemuka dalam Lokakarya Membaca Nyaring yang diselenggarakan Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemendikdasmen di Jakarta, Rabu (13/5/2026). Kegiatan itu mengangkat tema “Membaca Buku Menumbuhkan Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” sebagai bagian dari kampanye budaya literasi keluarga di era digital.
Penasihat DWP Kemendikdasmen, Masmidah Abdul Mu’ti, menilai keluarga perlu kembali menghadirkan kebiasaan membaca di rumah karena anak-anak kini terlalu lama menatap layar gawai. “Kita seperti menjadi korban teknologi. Penggunaan gawai sudah luar biasa, bahkan bisa mencapai 6–7 jam per hari dan termasuk tertinggi di dunia,” ujarnya.
Menurut Masmidah, orang tua perlu membangun suasana rumah yang lebih hangat dan interaktif agar anak tidak hanya bergantung pada hiburan digital. Ia juga menekankan bahwa anak-anak yang tumbuh bersama buku biasanya memiliki rasa ingin tahu lebih tinggi, kemampuan komunikasi lebih baik, serta empati yang lebih kuat terhadap lingkungan sekitar.
Karena itu, ia mengajak orang tua meluangkan waktu membaca bersama anak setiap hari, meski hanya beberapa menit. Di tengah gaya hidup serba cepat, sejumlah keluarga mulai menghadirkan sudut baca kecil di rumah, rak buku anak, hingga rutinitas bedtime story sebagai bagian dari pola asuh yang lebih mindful.
Kolaborasi sekolah dan keluarga
Ketua DWP Kemendikdasmen, Marlina Hafidz Muksin, mengatakan sekolah dan keluarga perlu membangun budaya membaca secara bersama-sama. Menurutnya, guru tidak bisa bekerja sendiri menumbuhkan literasi jika orang tua tidak menghadirkan kebiasaan membaca di rumah.
“Tujuan kegiatan ini adalah menguatkan peran sekolah dalam menumbuhkan budaya literasi sejak dini sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa literasi menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Selain meningkatkan kemampuan bahasa anak, metode membaca nyaring juga disebut membantu anak lebih fokus dan lebih tenang di tengah banyaknya distraksi digital.
Sekretaris Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Muhammad Yusro, menilai pendekatan kreatif menjadi kunci agar anak mencintai buku. “Di tengah perkembangan teknologi digital dan beragam distraksi yang ada, kita perlu menumbuhkan minat membaca melalui pendekatan yang kreatif, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan anak,” katanya.
Ia juga mengajak orang tua menjadikan membaca sebagai rutinitas kecil sehari-hari. “Luangkan waktu untuk membaca bersama anak-anak, karena dari kebiasaan kecil itulah akan lahir perubahan besar,” ujarnya.
Lokakarya tersebut diikuti 130 peserta dari 31 sekolah TK dan SD di Jakarta, yang terdiri dari guru, koordinator kelas, dan perwakilan orang tua.
Panduan menerapkan membaca nyaring di rumah
Membaca nyaring dilakukan dengan membacakan buku cerita secara jelas, ekspresif, dan interaktif. Agar kegiatan ini terasa menyenangkan, orang tua dapat menyiapkan beberapa langkah sederhana berikut.
1. Persiapan sebelum membaca
Pilih buku yang sesuai. Gunakan buku dengan ilustrasi menarik dan teks yang tidak terlalu banyak, terutama untuk anak usia dini. Tema yang sesuai minat anak dapat membuat mereka lebih antusias mendengarkan.
Baca buku terlebih dahulu. Orang tua disarankan memahami isi cerita sebelum membacakan. Langkah ini membantu mengatur intonasi dan emosi, sekaligus memudahkan menjawab pertanyaan anak.
Tentukan waktu yang nyaman. Pilih suasana tenang dan nyaman, misalnya sebelum tidur atau saat waktu santai bersama keluarga, agar anak mengasosiasikan membaca sebagai aktivitas menyenangkan.
2. Teknik saat membaca
Gunakan suara yang jelas. Bacakan cerita dengan suara cukup lantang dan mudah dipahami, tanpa terburu-buru.
Mainkan intonasi dan ekspresi. Gunakan variasi nada suara untuk tokoh atau suasana cerita, misalnya lembut untuk adegan sedih atau ceria untuk bagian lucu.
Gunakan gestur dan mimik wajah. Ekspresi dan gerakan tangan membantu anak memahami emosi dalam cerita dan membuat suasana lebih hidup.
Tunjukkan ilustrasi. Pastikan anak dapat melihat gambar di buku agar lebih mudah mengikuti alur dan mengenali karakter.
3. Buat membaca lebih interaktif
Libatkan anak dalam cerita. Ajukan pertanyaan sederhana, seperti “Menurutmu apa yang akan terjadi selanjutnya?”, “Kenapa tokoh itu sedih?”, atau “Kalau jadi dia, kamu akan bagaimana?” untuk melatih imajinasi dan kemampuan berpikir.
Diskusikan setelah membaca. Ajak anak membicarakan tokoh favorit, pesan cerita, atau bagian yang paling disukai.
Jangan terburu-buru. Fokus utama membaca nyaring adalah menikmati proses membaca bersama, bukan menyelesaikan buku secepat mungkin.
4. Bangun kebiasaan secara konsisten
Jadikan rutinitas harian. Membaca nyaring dapat dilakukan rutin, misalnya 10–15 menit setiap malam sebelum tidur.
Mulai sejak usia dini. Kebiasaan ini bisa dimulai sejak anak masih bayi. Semakin sering anak mendengar suara orang tua membacakan buku, semakin kuat keterikatan mereka dengan aktivitas membaca.
Dengan konsistensi, membaca nyaring diharapkan dapat memperkaya kosakata dan kemampuan komunikasi anak, sekaligus membantu mereka memandang membaca sebagai aktivitas yang hangat dan menyenangkan dalam keluarga.