Profesi AI trainer atau pelatih kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) belakangan ramai dibicarakan di media sosial. Salah satu yang viral adalah aktivitas merekam kegiatan mencuci piring yang disebut-sebut bisa menghasilkan bayaran dalam mata uang dollar AS.
Sekilas, pekerjaan tersebut tampak seperti pekerjaan rumah tangga biasa. Namun, rekaman gerak manusia itu digunakan untuk membantu melatih AI, khususnya robot humanoid, agar mampu memahami dan meniru gerakan manusia di dunia nyata.
Fenomena ini mencuat setelah pengguna Instagram bernama Itha Siburian Pandjaitan membagikan pengalamannya dibayar untuk merekam aktivitas mencuci piring bagi perusahaan AI Mindrift. Unggahan itu kemudian memicu rasa penasaran warganet di Indonesia mengenai cara kerja dan peluang dari pekerjaan serupa.
Meski terlihat menarik, masyarakat disarankan memahami potensi sekaligus risikonya sebelum ikut terjun menjadi AI trainer.
Pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, menjelaskan tren semacam ini muncul karena AI kini membutuhkan data dari dunia nyata, bukan hanya data digital yang sudah tersedia. “Selama ini, kecerdasan buatan ‘diberi makan’ dengan data digital yang sudah ada. Tetapi sekarang mereka perlu data dari dunia nyata,” kata Alfons dalam wawancara dengan KompasTekno, Jumat (23/5/2026).
Menurut Alfons, fenomena AI trainer menunjukkan bahwa AI tidak hanya berpotensi menggeser pekerjaan manusia, tetapi juga membuka peluang profesi baru. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit dan meningkatnya biaya hidup, pekerjaan seperti ini mulai dilihat sebagian orang sebagai alternatif pemasukan tambahan.
Sejumlah platform menawarkan pekerjaan pelatihan AI secara jarak jauh, antara lain Mindrift, Outlier AI, Toloka, Scale AI, hingga DataAnnotation. Platform tersebut umumnya merekrut pekerja lepas untuk membantu melatih model AI yang digunakan perusahaan teknologi besar.
Ragam tugasnya pun luas. Selain menulis artikel, memberi penilaian atas jawaban AI, dan melatih AI untuk kebutuhan pemrograman, ada pula pekerjaan yang meminta perekaman aktivitas fisik. Contohnya mencuci piring, memasak, melipat pakaian, hingga menyapu rumah, yang dapat digunakan sebagai materi pelatihan bagi robot humanoid.
Dari sisi pendapatan, laporan CBS News menyebut rata-rata AI trainer dibayar sekitar 105 dollar AS per jam atau sekitar Rp 1,7 juta. Untuk bidang yang lebih spesifik, seperti psikiatri, bayaran bahkan disebut bisa mencapai 350 dollar AS per jam atau sekitar Rp 5,7 juta.
Di tengah minat yang meningkat, pemahaman mengenai potensi dan risiko pekerjaan ini dinilai penting, mengingat pekerjaan pelatihan AI melibatkan pengumpulan data dan beragam bentuk tugas yang bergantung pada kebutuhan perusahaan serta platform yang merekrut pekerja lepas.