BERITA TERKINI
Visa: Penipuan Digital Beralih Jadi Industri Terorganisir Berbasis AI

Visa: Penipuan Digital Beralih Jadi Industri Terorganisir Berbasis AI

Jakarta — Lanskap keamanan pembayaran global disebut tengah menghadapi pergeseran yang mengkhawatirkan. Dalam laporan Biannual Threats Report terbaru, Visa menilai penipuan digital tidak lagi didominasi aksi individu atau kelompok amatir, melainkan telah berevolusi menjadi industri yang sistematis, sangat terorganisir, dan didorong oleh kecerdasan buatan (AI).

Visa menyebut fenomena ini sebagai “industrialisasi penipuan”, yakni ketika pelaku kriminal mengadopsi pola kerja menyerupai perusahaan rintisan teknologi untuk meningkatkan skala dan efisiensi serangan. Perubahan tersebut dinilai membuat ancaman siber menjadi lebih murah, lebih cepat, dan lebih sulit terdeteksi dibanding sebelumnya.

Salah satu temuan yang disorot adalah lonjakan penggunaan AI agent di forum-forum bawah tanah siber. Visa mencatat kenaikan 477% dalam diskusi dan penyebaran alat berbasis AI yang dirancang untuk memfasilitasi penipuan.

Berbeda dengan metode tradisional yang mengandalkan interaksi manual, agen AI memungkinkan otomatisasi rekayasa sosial. Alat ini dapat mengirim ribuan pesan penipuan yang dipersonalisasi, membangun percakapan yang meyakinkan dengan calon korban, hingga melakukan ekstraksi data secara massal selama 24 jam.

Dalam laporan itu, Visa menilai para pelaku kini beroperasi dengan efisiensi yang menyaingi perusahaan teknologi legal. Mereka disebut membangun infrastruktur yang dapat digunakan berulang, mulai dari botnet hingga identitas sintetis yang dihasilkan AI untuk mengelabui sistem verifikasi.

Industrialisasi penipuan juga tampak dari cara data pribadi dikelola. Data curian tidak lagi diperlakukan sebagai barang sekali pakai, melainkan sebagai aset. Visa mencatat lonjakan 220% pada kasus akun yang dipulihkan (recovered accounts), seiring pemanfaatan data dari kebocoran massal untuk menciptakan “identitas sintetis”—gabungan informasi nyata dan palsu—yang digunakan membuka akun baru atau mengambil alih akun lama.

Menurut Visa, dengan bantuan AI, identitas semacam ini dapat terlihat valid bagi sistem keamanan perbankan yang masih mengandalkan parameter statis. Kondisi tersebut meningkatkan tekanan bagi institusi keuangan dan pedagang (merchants), karena pertahanan tradisional yang bersifat reaktif dinilai tidak lagi memadai saat skala serangan bisa meluas dalam hitungan detik melalui celah kecil di sistem pihak ketiga.

Visa melaporkan telah menginvestasikan lebih dari USD12 miliar dalam lima tahun terakhir untuk memperkuat teknologi deteksi. Pembelajaran mesin (machine learning) disebut menjadi garda terdepan untuk membedakan transaksi manusia yang sah dengan aktivitas botnet yang terorganisir.

Bagi konsumen, laporan ini menjadi pengingat bahwa serangan digital kini tidak selalu tampak kasar atau mudah dikenali. Visa menekankan perlunya kolaborasi antara penyedia layanan pembayaran, regulator, serta peningkatan kesadaran pengguna. Pada 2026, keamanan disebut menjadi fondasi utama untuk menjaga kepercayaan terhadap ekonomi digital global.