Wall Street kembali bergerak melemah setelah tekanan pada saham-saham teknologi memicu aksi jual selama dua hari berturut-turut.
Pada penutupan perdagangan Senin, indeks S&P 500 turun 0,07 persen. Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi melemah lebih dalam sebesar 0,51 persen. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average masih menguat 159,95 poin atau 0,32 persen.
Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Saham Seagate Technology merosot hampir 7 persen setelah CEO Dave Mosley memperingatkan bahwa pembangunan fasilitas baru untuk memenuhi lonjakan permintaan AI membutuhkan waktu yang lama. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran pasar bahwa industri chip dan pusat data berpotensi menghadapi keterbatasan pasokan di tengah meningkatnya permintaan terkait AI.
Sentimen negatif itu turut menyeret saham Micron Technology dan sejumlah saham terkait AI lainnya, yang dilaporkan turun hampir 6 persen. Pelemahan saham-saham teknologi ini menjadi faktor utama yang membebani Nasdaq dan menahan penguatan pasar secara keseluruhan.
Meski Wall Street mencatat reli kuat dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah analis mulai melihat tanda-tanda pasar terlalu panas. Pekan lalu, S&P 500 dan Nasdaq sempat mencetak rekor tertinggi baru, sedangkan Dow Jones kembali menembus level 50.000 poin.
Kepala riset dan strategi makro Schwab Center for Financial Research, Kevin Gordon, menilai reli besar Wall Street kemungkinan mulai mendekati batasnya. Ia mengatakan, dari sudut pandang posisi pasar dan kondisi yang sudah terlalu panas, pasar kemungkinan tidak akan lagi melihat reli setajam sebelumnya.
Di luar pasar saham, investor juga mencermati kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat serta lonjakan suku bunga hipotek 30 tahun ke level tertinggi sejak Juli 2025. Perkembangan tersebut menambah kekhawatiran bahwa biaya pinjaman yang lebih mahal dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan laba perusahaan dalam beberapa bulan mendatang.