Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menekankan pentingnya regulasi yang mengatur etika dalam pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurut Nezar, tata kelola AI perlu berlandaskan nilai dan etika yang jelas serta diperkuat aturan hukum yang mengikat.
Pernyataan itu disampaikan Nezar dalam audiensi bersama Globethics pada Kamis, 14 Mei 2026. Ia menilai etika dalam teknologi perlu diterjemahkan ke dalam regulasi agar dapat dijalankan secara efektif, termasuk melalui penerapan sanksi bagi pihak yang melanggar.
Dalam pertemuan tersebut, Nezar juga menyoroti bahwa tantangan tata kelola AI tidak hanya terkait kemajuan teknologi, tetapi turut menyangkut persoalan etika dan potensi konflik nilai antarnegara. Ia menyinggung bahwa sebagian besar model generative AI dan large language model saat ini dikembangkan oleh negara-negara Barat.
Nezar menambahkan, perusahaan teknologi mulai menunjukkan peningkatan kesadaran terhadap aspek etika dalam pengembangan produk. Sejumlah perusahaan, kata dia, bahkan merekrut tenaga ahli dari bidang humaniora dan filsafat untuk membantu menilai dampak teknologi terhadap masyarakat. Risiko etis juga disebutnya kini menjadi bagian dari manajemen risiko perusahaan teknologi.
Ia menegaskan pengembangan AI di Indonesia perlu memperhatikan nilai, norma, dan karakter masyarakat lokal agar tidak memicu konflik nilai dalam proses pengolahan data maupun pengambilan keputusan berbasis AI. Hal itu dinilai penting untuk menjaga kesesuaian teknologi dengan konteks sosial budaya Indonesia.
Selain membahas regulasi, Nezar menyatakan dukungannya terhadap rencana penyelenggaraan Global Ethics Forum yang dijadwalkan berlangsung di Indonesia pada Oktober mendatang. Forum tersebut diharapkan menjadi wadah untuk mendorong kesepakatan global mengenai posisi etika dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan.
Nezar berharap penguatan regulasi etika serta adanya kesepakatan internasional dapat membantu memastikan pengembangan AI berjalan seimbang antara inovasi teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan.