BERITA TERKINI
Wamenkomdigi: Tantangan Tata Kelola AI Beralih ke Regulasi Etika

Wamenkomdigi: Tantangan Tata Kelola AI Beralih ke Regulasi Etika

Jakarta — Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai tantangan terbesar dalam tata kelola kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) saat ini bukan lagi pada perkembangan teknologinya, melainkan pada upaya menerjemahkan nilai dan etika menjadi regulasi yang mengikat.

Nezar mengatakan etika tidak memiliki kekuatan hukum, sehingga perlu dituangkan ke dalam aturan yang memuat sanksi dan konsekuensi yang jelas. Hal itu ia sampaikan dalam audiensi bersama Globethics di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026).

Ia juga menyoroti bahwa tidak semua perusahaan teknologi selama ini menganggap etika sebagai faktor penting yang perlu dimitigasi dalam pengembangan produk digital. Meski demikian, Nezar menyebut kesadaran mengenai pentingnya etika mulai tumbuh di industri teknologi global.

Menurutnya, perkembangan tersebut terlihat dari langkah sejumlah perusahaan teknologi yang mulai merekrut lulusan humaniora dan filsafat untuk membantu mengevaluasi produk yang bersentuhan langsung dengan manusia. Nezar menyebut risiko etis kini mulai masuk sebagai salah satu kategori dalam hierarki risiko perusahaan teknologi, sesuatu yang sebelumnya belum menjadi perhatian.

Nezar menilai aspek etika semakin penting seiring berkembangnya teknologi baru seperti AI, karena berpotensi memunculkan konflik nilai, norma, dan visi di tengah masyarakat. Ia menekankan bahwa pengembangan AI dapat bersinggungan dengan persoalan-persoalan fundamental yang berdampak pada kehidupan sosial.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa sebagian besar model AI generatif berbasis Large Language Model (LLM) saat ini dikembangkan oleh negara-negara Barat. Karena itu, nilai-nilai yang tertanam dalam sistem tersebut belum tentu selaras dengan budaya dan nilai masyarakat Indonesia, sehingga risiko konflik nilai dinilai mungkin terjadi dalam pemrosesan data maupun pengambilan keputusan oleh AI.

Dalam konteks tersebut, Nezar mendukung rencana penyelenggaraan Global Ethics Forum di Indonesia pada Oktober mendatang. Ia berharap forum itu dapat mendorong kesepakatan global agar etika memiliki posisi yang lebih strategis dalam pengembangan dan tata kelola AI ke depan.

Sumber: infopublik.id