Penggunaan gawai (gadget) kian melekat dalam keseharian, termasuk pada anak usia balita. Di satu sisi, teknologi dapat membantu proses pendampingan tumbuh kembang anak bila digunakan secara tepat. Namun di sisi lain, paparan layar yang berlebihan dikhawatirkan mengganggu perkembangan anak, terutama pada rentang usia 0–6 tahun yang kerap disebut sebagai masa penting pertumbuhan.
Sejumlah orang tua diketahui memberikan gadget kepada anak agar lebih tenang, tidak rewel, atau mudah diarahkan saat orang tua sedang sibuk. Data yang dipaparkan dalam kegiatan ini menyebutkan lebih dari 50% orang tua membiarkan anak terpapar gadget lebih dari dua jam. Kebiasaan tersebut disebut sering terjadi tanpa pendampingan dan batasan yang jelas, sehingga berisiko memengaruhi tumbuh kembang anak, seperti keterlambatan bicara, berkurangnya interaksi sosial, hingga anak lebih mudah tantrum.
Fenomena itu menjadi latar belakang digelarnya webinar psikoedukasi bertema “Mendampingi Balita di Era Digital: Penggunaan Gadget Sehat”. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman orang tua, khususnya yang memiliki anak usia 0–5 tahun, mengenai dampak positif dan negatif gadget, pentingnya pengawasan, serta strategi membangun kebiasaan digital yang sehat.
Webinar dilaksanakan secara daring pada Sabtu, 16 Mei 2026 melalui Google Meet, diikuti 16 peserta yang merupakan orang tua balita. Kegiatan berlangsung sekitar dua jam dengan metode ceramah interaktif dan sesi tanya jawab. Pemateri dalam kegiatan ini merupakan mahasiswi psikologi.
Rangkaian acara dimulai dengan pembukaan oleh moderator, kemudian dilanjutkan pre-test untuk memetakan pemahaman awal peserta terkait penggunaan gadget sehat pada balita. Materi yang disampaikan mencakup dampak penggunaan gadget, batas screen time sesuai usia anak, pentingnya pendampingan orang tua, serta strategi mengurangi ketergantungan anak pada gadget. Kegiatan ditutup dengan post-test dan dokumentasi bersama.
Dalam sesi diskusi, peserta menyampaikan pengalaman dan pertanyaan terkait situasi sehari-hari. Salah satu peserta menanyakan solusi ketika anak sudah diberi batasan, tetapi melihat teman atau lingkungan sekitar masih bermain ponsel lebih lama sehingga anak menjadi rewel meminta gadget. Peserta lain menanyakan cara membedakan konten yang sesuai untuk balita yang sedang aktif. Pertanyaan-pertanyaan itu dinilai menunjukkan sebagian peserta belum sepenuhnya memahami prinsip penggunaan gadget yang sehat.
Dalam webinar tersebut, disampaikan rujukan dari World Health Organization (WHO) dan American Academy of Child and Adolescent Psychiatry. Anak usia di bawah 18 bulan disarankan tidak terpapar screen time kecuali untuk panggilan video, sedangkan anak usia 2–5 tahun dianjurkan menggunakan gadget maksimal satu jam per hari dengan pendampingan orang tua. Orang tua juga didorong memilih konten sesuai usia serta menyeimbangkan penggunaan gadget dengan aktivitas bermain.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta. Nilai pemahaman pada pre-test tercatat 58,13% dan meningkat menjadi 97,5% pada post-test. Peningkatan ini diartikan sebagai indikasi bahwa psikoedukasi membantu orang tua memahami penggunaan gadget yang lebih sehat dan bijak bagi anak usia balita.
Melalui kegiatan tersebut, orang tua diharapkan mampu menerapkan batasan dan aturan sebagai pedoman dalam mendampingi anak menggunakan gadget. Di tengah perkembangan teknologi yang sulit dihindari, pendampingan aktif dan penggunaan yang bijaksana dinilai penting agar gadget dapat dimanfaatkan untuk mendukung perkembangan anak.