BERITA TERKINI
Adab dan Teknologi: Tantangan Orang Tua Mendidik Anak di Era Digital

Adab dan Teknologi: Tantangan Orang Tua Mendidik Anak di Era Digital

Kalimat “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu” kerap dikutip sebagai pengingat bagi orang tua. Namun dalam praktiknya, mendidik anak di era digital bukan perkara sederhana. Banyak orang tua berada di persimpangan antara kekhawatiran terhadap dampak negatif teknologi dan ketakutan anak akan tertinggal bila aksesnya terlalu dibatasi.

Dalam situasi ini, pendekatan yang ditekankan bukan memilih salah satu secara ekstrem, melainkan mencari keseimbangan. Anak perlu dibekali “akar” berupa adab yang kuat agar tidak mudah goyah, sekaligus “sayap” berupa pemahaman teknologi agar mampu berkembang di zamannya.

Adab sebagai fondasi yang tidak lekang waktu

Di tengah dunia yang semakin otomatis, nilai-nilai kemanusiaan justru dinilai menjadi aset yang paling berharga. Adab atau etika dipandang sebagai fondasi karakter yang tidak kedaluwarsa oleh perubahan zaman.

Salah satu yang ditekankan adalah empati. Di era layar, anak-anak berisiko kehilangan kemampuan membaca emosi orang lain. Karena itu, orang tua perlu mengajarkan bahwa di balik setiap akun media sosial ada manusia dengan perasaan. Cara berbicara dan berkomentar di ruang digital menjadi bagian dari empati modern.

Selain itu, ketahanan mental atau grit juga dianggap penting. Teknologi kerap menawarkan kepuasan instan—mulai dari sekali klik untuk membeli hingga menonton. Dalam konteks ini, orang tua didorong menanamkan nilai kesabaran dan kerja keras, bahwa keberhasilan tetap membutuhkan proses, bukan semata hasil cepat dari algoritma.

Teknologi sebagai bekal menghadapi masa depan

Di sisi lain, menjauhkan anak sepenuhnya dari teknologi dinilai kurang bijak. Teknologi dipandang bukan lagi pilihan, melainkan bahasa universal yang akan semakin dibutuhkan di masa depan.

Karena itu, orang tua perlu mengenalkan teknologi secara bijak. Salah satu caranya adalah mengubah posisi anak dari sekadar konsumen menjadi kreator. Gadget tidak hanya diperlakukan sebagai alat hiburan, melainkan juga alat produksi. Anak dapat diajak mengenal coding, desain grafis, atau pembuatan konten positif, sehingga perangkat digital dipahami seperti “kuas lukis” yang membuka ruang berkarya.

Aspek lain yang tak kalah penting adalah literasi digital dan keamanan. Mengajarkan penggunaan internet tanpa membekali anak dengan pemahaman keamanan siber diibaratkan seperti melepas mereka ke hutan tanpa kompas. Anak perlu memahami cara memilah informasi yang valid, membedakan hoaks dan fakta, serta menyadari pentingnya menjaga privasi data pribadi.

Dengan memadukan adab sebagai pegangan dan teknologi sebagai keterampilan, orang tua diharapkan dapat membantu anak tumbuh sesuai tuntutan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasar yang membentuk karakter.