BARABAI, Hulu Sungai Tengah — Fenomena anak usia dini yang terbiasa melontarkan kata-kata kasar disebut kian sering ditemui, termasuk di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST). Kondisi ini dinilai memprihatinkan karena tidak jarang justru dianggap lucu dan menggemaskan oleh sebagian orang dewasa di sekitarnya.
Hal tersebut menjadi perhatian Aida Ramila Wati, salah seorang orang tua di HST. Ia mengaku resah, terlebih anaknya, Bumi, saat ini bersekolah di tingkat taman kanak-kanak (TK).
“Sebenarnya sangat miris melihat anak kecil sudah terbiasa berbicara kata-kata kasar. Bahkan kata-kata kasar kaya sudah menjadi bahasa sehari-hari beberapa anak yang sudah terkontaminasi,” ujar Aida, Sabtu (7/2/2026).
Aida menyayangkan sikap orang tua yang menertawakan ucapan kasar anak dengan alasan masih kecil sehingga dianggap wajar. Menurutnya, justru pada usia tersebut peran orang dewasa diperlukan untuk membimbing anak membedakan kata yang pantas dan tidak pantas diucapkan.
“Parahnya lagi, orang tua di sekelilingnya menganggap itu lucu. Dalihnya ‘namanya juga anak-anak’. Padahal karena mereka masih anak-anak, orang tua seharusnya memberitahu mana kata yang pantas diucapkan dan mana yang tidak,” tegasnya.
Ia juga menilai, saat anak sudah terlanjur terbiasa mengumpat, label negatif seperti “anak tidak punya adab” sering muncul, tanpa disertai kesadaran bahwa pembiaran orang dewasa turut berkontribusi.
“Anaknya nanti dihakimi tidak punya adab, padahal itu juga akibat pembiaran dari orang tua di sekitarnya,” katanya.
Selain pengaruh lingkungan, Aida menyoroti peran gadget yang dinilainya besar terhadap perilaku anak. Menurutnya, tidak sedikit anak usia dini yang sudah bebas memainkan gim daring tanpa pendampingan orang tua.
“Banyak orang tua berpikir tidak apa-apa main gadget asal anak tidak main di luar rumah. Padahal tanpa sadar, anak-anak itu sedang menjelajah dunia luar yang sangat luas,” ucapnya.
Meski demikian, Aida menegaskan dirinya tidak sepenuhnya melarang penggunaan gadget. Namun, ia menekankan pembatasan dan pengawasan saat anak menggunakannya.
“Aku bukan orang tua yang sama sekali tidak memberi gadget ke anak. Tapi kalau diberi, itu dalam pengawasan aku atau orang dewasa di sekeliling,” jelasnya.
Di lingkungan keluarga, Aida dan suami mengaku berkomitmen menjaga tutur kata di rumah. Kata-kata kasar diupayakan tidak digunakan di dekat anak. Jika perlu dikenalkan, kata-kata tersebut hanya dijelaskan sebagai kosa kata yang tidak pantas diucapkan.
“Kami sepakat tidak pernah menggunakan kata umpatan kasar di dekat anak. Kami juga memberitahu kosa kata kasar, tapi ditekankan bahwa itu tidak boleh diucapkan,” terangnya.
Aida menyebut, hingga usia lima tahun, anaknya tidak terpapar gim daring maupun konten viral yang menurutnya tidak sesuai usia karena pembatasan gadget di rumah.
“Alhamdulillah, anakku tidak pernah terpapar game online. Dia juga tidak tahu konten anomali seperti tung-tung sahur atau capucina balerina karena memang gadget sangat dibatasi di rumah,” ungkapnya.
Di rumah, anaknya lebih banyak menonton televisi dengan pendampingan orang tua. Bahkan, sebelum menonton, anak diminta untuk meminta izin terlebih dahulu.
“Kalau mau nonton, dia izin dulu. Boleh nonton ini atau tidak,” tambahnya.
Dalam pola asuh, Aida menanamkan prinsip yang menurutnya utama, yakni menempatkan adab sebagai hal yang tidak bisa ditawar.
“Adab di atas ilmu. Buat apa berilmu tapi tidak punya adab,” ucapnya.
Ia mengatakan tidak menerapkan pola asuh yang sepenuhnya lembut. Teguran dan kemarahan tetap ada ketika anak berbuat salah, namun ia berusaha memberikan penjelasan setelah emosi anak sudah stabil.
“Kalau anak salah, ya aku tegur, ya aku marahi. Tapi setelah emosi stabil, baru aku kasih pengertian,” cetusnya.
Aida dan suami juga sepakat untuk tidak saling membela saat salah satu sedang menegur anak. Menurutnya, pasangan tetap dapat memberi pengertian tanpa membenarkan kesalahan anak.
“Kalau aku marah, suami tidak boleh membela, begitu juga sebaliknya. Tapi yang satu memberi pengertian, bukan membenarkan kesalahan anak,” imbuhnya.
Selain itu, ia menerapkan sistem hadiah dan konsekuensi sesuai perilaku anak.
“Kalau dia salah, ada hukuman. Kalau melakukan kebaikan yang membanggakan, ada hadiah,” tuturnya.
Aida berharap semakin banyak orang tua lebih bijak dalam mendampingi anak, terutama terkait penggunaan gadget, agar anak tidak terpapar bahasa kasar sejak dini.
“Harapanku, semoga para orang tua lebih bijak memberi gadget dan lebih mendampingi anak, supaya anak-anak tidak terpapar bahasa-bahasa kasar sejak dini,” pungkasnya.