Desa Blatten di kanton Valais, Swiss selatan, hancur setelah runtuhan besar dari Gletser Birch menerjang lembah pada akhir Mei 2025. Gelombang material berupa es, batu, dan lumpur meratakan permukiman, kandang ternak, serta infrastruktur yang telah berdiri selama ratusan tahun. Meski kerusakan fisik dilaporkan total, hampir tidak ada korban jiwa dari kalangan penduduk karena seluruh warga telah dievakuasi lebih dulu.
Bencana tersebut datang dengan suara gemuruh keras saat jutaan meter kubik material meluncur dari lereng gunung dan menyapu dasar lembah. Spesialis geologi pegunungan tinggi dan gletser dari Lausanne University, Christophe Lambiel, menyebut peristiwa itu sebagai “skenario terburuk” yang berujung bencana, seperti dikutip stasiun televisi Swiss RTS. Citra satelit dan rekaman drone pascabencana menunjukkan area permukiman berubah menjadi hamparan puing kelabu setebal puluhan meter yang memanjang hingga sekitar 1,6 kilometer.
Dampak lain dari longsoran ini adalah terbendungnya Sungai Lonza oleh material runtuhan, yang kemudian membentuk danau baru. Kondisi tersebut memunculkan ancaman lanjutan bagi wilayah di hilir, karena bendungan alami berpotensi menimbulkan banjir bandang jika mengalami keruntuhan.
Keselamatan warga Blatten ditopang oleh keputusan evakuasi yang dilakukan jauh sebelum gletser runtuh. Para ahli geologi dan glasiologi Swiss memantau pergerakan Gletser Birch menggunakan teknologi radar dan laser presisi tinggi. Mereka mendeteksi percepatan gerak es serta meningkatnya frekuensi longsoran batu kecil dari lereng gunung—indikasi bahwa struktur gletser mendekati titik kritis.
Merespons temuan tersebut, otoritas setempat mengeluarkan perintah evakuasi total pada 19 Mei 2025, lebih dari sepekan sebelum puncak bencana. Sekitar 300 warga dievakuasi, termasuk upaya penyelamatan hewan ternak. Helikopter dikerahkan untuk mengangkut sapi, domba, dan kambing dari area penggembalaan ke lokasi aman. Akses jalan menuju desa ditutup dan sistem pengamanan dipasang untuk mencegah warga maupun turis memasuki zona berbahaya.
Peristiwa di Blatten juga kembali menyoroti risiko yang dikaitkan dengan perubahan iklim. Pegunungan Alpen disebut memanas dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Kenaikan suhu turut memengaruhi permafrost—lapisan tanah dan batuan beku yang membantu menjaga kestabilan lereng. Ketika permafrost mencair, lereng menjadi lebih rapuh dan gletser yang menyusut kehilangan penyangga, sehingga lebih rentan mengalami runtuhan besar.
Lambiel menyatakan para ilmuwan telah melihat sinyal bahaya melalui semakin seringnya longsoran batu dari lereng menuju gletser. Fenomena semacam ini diperkirakan dapat meningkat di berbagai wilayah pegunungan dunia, tidak hanya di Alpen.
Kehancuran Blatten menyisakan duka bagi warga yang kehilangan rumah dan jejak sejarah keluarga mereka. Namun, kasus ini sekaligus menunjukkan bagaimana pemantauan ilmiah, kebijakan publik yang tegas, dan kepatuhan masyarakat dapat menekan risiko korban jiwa. Tantangan berikutnya bagi otoritas Swiss adalah menangani bendungan alami di Sungai Lonza agar tidak memicu banjir susulan di wilayah hilir.