Banyak orang membuka media sosial dengan tujuan sederhana, sekadar mengecek linimasa atau scrolling sebentar. Namun, aktivitas itu kerap berlangsung lebih lama dari rencana. Lima menit bisa berubah menjadi satu jam atau lebih. Kebiasaan scrolling tanpa henti yang sulit dikendalikan ini dikenal sebagai doomscrolling.
Meski sering dianggap sepele, sejumlah temuan menunjukkan penggunaan gadget berlebihan bukan hanya soal waktu yang terbuang. Kebiasaan tersebut dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental, terutama ketika dilakukan berjam-jam setiap hari.
Data yang dipaparkan dalam artikel di laman Universitas Esa Unggul (2023) menyebut sekitar 47,2% pengguna media sosial di Indonesia menghabiskan waktu lebih dari empat jam per hari di platform digital. Durasi yang panjang ini disebut berpotensi memicu stres dan kecemasan.
Sementara itu, artikel di laman Universitas Multimedia Nusantara (2022) mencatat sekitar 33% remaja dan dewasa mengalami kecanduan media sosial. Salah satu cirinya adalah dorongan untuk terus-menerus scrolling meski sudah menyadari kebiasaan tersebut dapat berdampak negatif. Angka ini menunjukkan penggunaan gadget yang tidak sehat dapat terjadi pada kelompok usia yang luas.
Dampak yang paling umum dari penggunaan gadget berlebihan adalah gangguan tidur. Kementerian Kesehatan RI (2025) menjelaskan paparan layar sebelum tidur dapat menekan produksi hormon melatonin yang berperan mengatur siklus tidur. Akibatnya, kualitas tidur menurun dan tubuh terasa lelah.
Selain itu, doomscrolling juga dikaitkan dengan meningkatnya kecemasan dan kecenderungan overthinking. Penelitian Bibi Hawwa, Zoya Arif, dan Sara Taj (2025) dalam Social Sciences & Humanity Research Review menyebut paparan konten negatif secara terus-menerus dapat memperkuat gejala kecemasan.
Untuk mengurangi kebiasaan scrolling berlebihan, langkah yang dapat dilakukan adalah membatasi durasi penggunaan media sosial, terutama pada malam hari menjelang tidur. Upaya lain yang dapat membantu ialah mengatur waktu khusus untuk mengecek media sosial agar aktivitas tidak berlangsung tanpa kontrol.
Dengan pengaturan penggunaan gadget yang lebih terukur, risiko gangguan tidur dan dampak psikologis akibat paparan konten negatif dapat ditekan, sekaligus membantu menjaga keseimbangan aktivitas sehari-hari.