BERITA TERKINI
Gadget dan Media Sosial Dorong Kecemasan Remaja di Era Serba Cepat

Gadget dan Media Sosial Dorong Kecemasan Remaja di Era Serba Cepat

Di era digital yang bergerak cepat, gadget tidak lagi sekadar alat komunikasi. Bagi banyak remaja, ponsel telah menjadi “ruang hidup” kedua yang menyertai aktivitas sejak bangun tidur hingga menjelang tidur. Kebiasaan membuka media sosial di sela belajar, terus memantau unggahan orang lain, dan membandingkan diri dengan kehidupan di layar dinilai dapat memicu kecemasan secara perlahan.

Kecemasan pada remaja digambarkan sebagai kondisi ketika seseorang merasa khawatir berlebihan, tegang, dan sulit merasa aman, meskipun ancaman yang dihadapi tidak selalu nyata. Dalam keseharian, kecemasan ini dapat muncul dalam bentuk overthinking, takut tertinggal, takut tidak cukup baik, hingga merasa hidupnya “kalah jauh” dibandingkan orang lain.

Sejumlah penelitian menyoroti kaitan antara intensitas penggunaan media sosial dan kesehatan mental remaja. Studi Vannucci, Flannery, dan Ohannessian (2017) menyebutkan bahwa semakin sering remaja menggunakan media sosial, semakin tinggi tingkat kecemasan dan depresi yang mereka alami, terutama pada kelompok usia 13–18 tahun. Penelitian itu juga mengaitkan paparan media sosial yang intens dengan kecenderungan melakukan perbandingan sosial ke atas (upward social comparison), yang dapat berujung pada ketidakpuasan terhadap diri sendiri.

Temuan serupa disampaikan penelitian yang dimuat di Journal of Adolescence. Menurut Nesi dan Prinstein (2015), media sosial berkontribusi signifikan terhadap kecemasan sosial karena remaja kerap menilai diri berdasarkan validasi online, seperti jumlah likes, komentar, dan views.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa tekanan yang dialami remaja tidak hanya datang dari sekolah atau keluarga, tetapi juga dari standar hidup digital yang terus hadir melalui layar. Di media sosial, remaja dapat melihat pencapaian teman, gaya hidup influencer, tubuh ideal, hingga kesuksesan yang tampak sempurna hanya dalam hitungan detik. Namun, apa yang terlihat di media sosial umumnya merupakan potongan terbaik, bukan realitas yang utuh.

Dalam situasi ini, gadget dan media sosial dapat mempercepat budaya membandingkan diri. Ketika perbandingan terjadi berulang, rasa cemas dapat tumbuh dan menetap, terutama jika remaja terus mengukur nilai dirinya dari apa yang tampak di dunia digital.