Suara tawa dan teriakan semangat terdengar dari lapangan kompleks di kawasan Jakarta Selatah. Bukan berasal dari kompetisi gim daring, melainkan dari puluhan anak yang bermain egrang dan tarik tambang. Aktivitas itu menjadi bagian dari gerakan “Ayo Main Tanpa Gadget” yang digelar di sejumlah lokasi, sekaligus menunjukkan permainan tradisional masih mampu menarik minat generasi anak saat ini.
Salah satu inisiator gerakan di Jakarta, Fauziah Nailufar, M.Pd., menilai pengenalan permainan tradisional perlu dilakukan dengan pendekatan kreatif agar relevan bagi anak-anak. Ia menyebut egrang bambu dihias dengan warna cerah, papan engklek dibuat dengan bentuk karakter kartun, serta aturan permainan bentengan diberi variasi. Menurutnya, penyesuaian itu bertujuan membangun kesan awal yang menarik. Setelah anak-anak mencoba, ia melihat respons yang muncul berupa tawa, aktivitas fisik, dan interaksi sosial. “Kecanduan itu terjadi, tapi kecanduan untuk bergerak dan bersosialisasi,” ujarnya, merujuk pada kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukannya.
Dari sisi dampak, penelitian Anggita, G. M., dkk. dari Universitas Negeri Semarang (2023) melaporkan adanya korelasi negatif antara partisipasi aktif dalam permainan tradisional dan tingkat kecanduan gawai. Berdasarkan survei terhadap anak-anak yang terlibat dalam kegiatan serupa, mereka yang rutin bermain permainan tradisional kelompok menunjukkan peningkatan kemampuan motorik dan keterampilan sosial, seperti menunggu giliran serta bekerja sama. Pada saat yang sama, penelitian itu mencatat penurunan frekuensi dan durasi bermain gim online. Anggita menyimpulkan permainan tradisional dapat menjadi intervensi yang efektif, bukan sekadar nostalgia.
Gerakan ini juga melibatkan orang tua, bukan hanya sebagai pengantar, tetapi turut menjadi peserta. Jufrida, M.Pd., dalam program pengabdiannya, menyampaikan bahwa ketika orang tua ikut bermain cublak-cublak suweng atau balap karung, anak merasa didukung dan lebih senang. Ia menambahkan, orang tua juga merasakan langsung manfaat permainan yang melatih fisik dan memicu tawa, sekaligus membangun memori positif bersama keluarga.
Di sisi lain, kebutuhan membangun ekosistem pendukung turut menjadi perhatian. Dr. Muhamad Akbar, peneliti pelestarian permainan tradisional di Lakudo, menekankan peran taman kanak-kanak dan sekolah dasar sebagai pusat pelestarian. Menurutnya, guru dapat memasukkan permainan tradisional dalam muatan lokal, bahkan memanfaatkannya dalam pembelajaran seperti matematika atau bahasa. Ia juga mendorong agenda seperti festival permainan tradisional menjadi kegiatan tahunan, dengan dukungan kebijakan dari tingkat sekolah hingga daerah, termasuk penyediaan sarana dan alokasi waktu.
Secara keseluruhan, gerakan “Ayo Main Tanpa Gadget” menggambarkan upaya menghadirkan alternatif aktivitas yang lebih aktif, sehat, dan sarat nilai sosial di tengah arus digitalisasi. Berbagai inisiatif komunitas tersebut diharapkan dapat memperluas semangat untuk menghadirkan kembali pengalaman masa kecil yang bergerak dan ceria bagi anak-anak.