BERITA TERKINI
Hampir Separuh Peserta Cek Kesehatan Gratis di Bandung Terindikasi Gangguan Mental, Psikolog Soroti Paparan Gawai

Hampir Separuh Peserta Cek Kesehatan Gratis di Bandung Terindikasi Gangguan Mental, Psikolog Soroti Paparan Gawai

BANDUNG — Hasil cek kesehatan gratis (CKG) di sekolah-sekolah Kota Bandung pada periode Agustus hingga Oktober 2025 menunjukkan puluhan ribu siswa terindikasi mengalami gangguan kesehatan mental. Dari total 148.239 peserta didik yang mengikuti pemeriksaan, sebanyak 71.433 siswa atau sekitar 48,19 persen tercatat memiliki indikasi gangguan mental.

Temuan menonjol terjadi pada jenjang SMP/MTs sederajat. Pada kelompok ini, 49,09 persen siswa menunjukkan indikasi gangguan kesehatan mental.

Data tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kesehatan mental pelajar secara lebih sistematis.

Menanggapi hasil screening itu, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung, Efnie Indrianie, menilai kondisi tersebut tidak lepas dari fase perkembangan remaja yang rentan, sekaligus pengaruh kuat teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari.

Efnie menjelaskan mayoritas siswa yang mengikuti screening berada pada usia remaja, yakni masa transisi dari anak menuju dewasa yang ditandai perubahan hormonal dan kondisi psikologis yang cenderung lebih mudah berubah. Menurutnya, fase ini membuat remaja berada pada posisi yang paling rentan dan tidak stabil secara emosional.

Kerentanan itu, kata Efnie, semakin diperkuat oleh tingginya paparan teknologi. Remaja saat ini memiliki waktu penggunaan gawai atau screen time yang sangat tinggi.

Ia menyoroti paparan cahaya biru (blue light) dari perangkat gawai yang mengenai mata secara intens dan terus-menerus. Efnie menyebut paparan tersebut dapat memengaruhi hormon dopamin di otak, dan penurunan dopamin dapat menimbulkan ciri-ciri yang mirip dengan kondisi depresi.

Selain itu, Efnie menilai kondisi psikologis remaja dapat menjadi lebih kompleks ketika mereka terpapar beragam konten media sosial yang memicu perbandingan sosial. Ia menyebut tayangan dan arus informasi di media sosial dapat mendorong remaja membandingkan diri dengan orang lain, sehingga persoalan yang dirasakan menjadi semakin rumit.

Efnie juga menekankan bahwa hasil screening yang menunjukkan gejala kecemasan dan depresi merupakan refleksi dari simptom yang benar-benar dirasakan siswa. Menurutnya, screening menggunakan alat ukur terstandarisasi yang memunculkan ciri-ciri atau gejala terkait depresi maupun kecemasan, dan gejala tersebut dihayati oleh peserta didik yang mengalaminya.