BERITA TERKINI
Kelompok Kajian Filsafat Way of Life Bandung Dorong Filsafat Sains untuk Menjawab Etika AI dan Tantangan Lokal

Kelompok Kajian Filsafat Way of Life Bandung Dorong Filsafat Sains untuk Menjawab Etika AI dan Tantangan Lokal

Dosen filsafat sains program doktoral STEI ITB, Dimitri Mahayana, memaparkan gagasan kelompok kajian Filsafat Way of Life Bandung yang berupaya menggabungkan warisan pemikiran Barat dengan perspektif lokal dalam pengembangan filsafat sains di Indonesia. Kelompok ini bertumpu pada pengajaran filsafat sains di lingkungan program doktoral STEI ITB dan membuka ruang dialog antara filsafat, sains, serta isu-isu kemasyarakatan.

Dalam bukunya Filsafat Sains: Dari Newton, Einstein hingga Sains Data (ITB Press, 2024), Dimitri menelusuri evolusi sains dari mekanika Newton, relativitas Einstein, dan fisika kuantum hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI) modern. Ia menempatkan isu kesadaran sebagai salah satu tema sentral, termasuk pertanyaan apakah AI dapat memiliki kesadaran. Mengacu pada gagasan era “Beyond Bifurcation” pasca-Descartes, ia menilai filsafat sains perlu berperan mencegah AI menjadi pseudosains melalui etika dan validasi empiris.

Selain membahas AI, buku tersebut juga mengeksplorasi teori dawai dan kosmologi, dengan penekanan pada peran filsafat dalam menuntun sains data agar selaras dengan nilai kemanusiaan. Dimitri juga mengaitkan filsafat sains dengan isu-isu di Indonesia, seperti pandemi dan tsunami, yang menurutnya menuntut integrasi sains dengan perencanaan urban.

Kelompok kajian Filsafat Way of Life Bandung, sebagaimana dipaparkan Dimitri, memperluas logika rasional ke ranah filsafat agama, termasuk pembahasan tauhid dan eksistensi Tuhan melalui dialog antara sains dan mistisisme. Kelompok ini menyatakan terbuka untuk menekuni literatur filsafat, sains, filsafat sains, serta integrasinya dan dialognya dengan spiritualisme, metafisika, maupun agama.

Dalam kegiatan bedah buku di ITB pada 2024, kelompok kajian yang dimotori STEI ITB mengangkat diskusi mengenai kesadaran AI. Sejumlah dosen dan alumni, antara lain Budi Raharjo, Agus Nggermanto, dan Budi Sulistyo, disebut menyoroti transisi pemikiran dari dualisme Descartes menuju era AI.

Dimitri juga menyebut terbitnya sejumlah buku lanjutan pada 2024–2025 yang dikaitkan dengan penguatan diskursus tersebut, di antaranya Filsafat Way of Life (2025, Jalaluddin Rakhmat), Manusia Dalam Sorotan Pengetahuan (2025, Jalaluddin Rakhmat), 19 Narasi Besar Akal Imitasi (2025, Dimitri Mahayana dan Agus Ngermanto), Probabilitas et Realitas: Philosophia, Scientia et Intelegentia Artificialis (2025, Dimitri Mahayana dan Agus Ngermanto), AI, Transformasi Digital dan Masa Depan Indonesia (2025, Dimitri Mahayana), Pengantar AI Untuk Manager (2025, Dimitri Mahayana dkk.), serta Apakah Silikon Bisa Menangis (2024, Dimitri Mahayana, Agus Ngermanto, Budi Sulistyo, Budi Rahardjo, Widyawardana Adiprawita).

Menurut Dimitri, pengaruh kelompok studi tersebut terlihat dalam upaya mengoptimalkan filsafat sains untuk mencegah bias dalam sains data, halusinasi, dan “workslop” AI. Ia menilai isu ini relevan bagi Indonesia yang tengah berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan AI.

Ia menggambarkan pendekatan kelompok kajian ini berbasiskan sains dan filsafat yang kuat pada tradisi pemikiran Barat, namun berupaya menjembatani dengan menambahkan dimensi spiritual agar filsafat sains lebih inklusif bagi masyarakat multireligius.

Dalam bagian penutup, Dimitri menilai filsafat sains di Indonesia bergerak dari “adopsi pasif” gagasan Barat—yang ia kaitkan dengan pemikir seperti Kattsoff, Chalmers, Popper, Kuhn, Lakatos, Feyerabend, hingga Bruno Latour—menuju sintesis yang lebih dinamis untuk menjawab tantangan lokal, termasuk etika AI dan pseudosains. Ia menyebut Kattsoff sebagai penyedia fondasi logis, Chalmers sebagai pihak yang membantu dekonstruksi mitos ilmiah, sementara “lingkaran Bandung” mengaplikasikan gagasan tersebut dalam konteks Nusantara.

Ia juga menyinggung konteks target “Golden Indonesia 2045” yang bertumpu pada sains dan teknologi. Dalam pandangannya, filsafat sains tidak lagi sekadar abstraksi, melainkan dapat menjadi alat bagi pembangunan berkelanjutan. Namun, ia menekankan adanya tantangan berupa penguatan kurikulum di perguruan tinggi dan dorongan dialog antar-disiplin agar terhindar dari “sains kolonial” yang dinilai tidak relevan. Dengan langkah tersebut, ia menilai filsafat sains dapat menjadi pilar bagi kedaulatan intelektual Indonesia, dengan pengetahuan yang tidak hanya berisi fakta, tetapi juga nilai kemanusiaan.