Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menegaskan komitmennya untuk pemerataan akses internet guna mendukung pembelajaran digital di seluruh Indonesia. Fokus utama kebijakan ini diarahkan agar pelajar di daerah terpencil memiliki kesempatan belajar yang setara dengan mereka yang berada di wilayah perkotaan.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan konektivitas internet saat ini telah menjangkau sekitar 97 persen wilayah berpenduduk. Namun, tantangan yang tersisa berada pada kualitas layanan, terutama di wilayah pinggiran dan daerah terpencil.
“Kecepatan internet rata-rata nasional berada di kisaran 45 Mbps, masih di bawah rata-rata Asia Tenggara. Pemerintah menargetkan peningkatan hingga 100 Mbps dalam tiga tahun ke depan, termasuk perluasan jaringan generasi kelima yang saat ini masih di bawah 10 persen,” ujar Nezar saat menerima audiensi mahasiswa Johns Hopkins School of Advanced International Studies di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Senin (12/01/2026).
Menurut Nezar, kondisi geografis Indonesia serta besarnya jumlah penduduk membuat pemerataan jaringan harus dilakukan melalui pendekatan bertahap. Ia menyebut kualitas layanan relatif stabil di wilayah padat penduduk, sementara penguatan infrastruktur di daerah terpencil masih terus dilakukan.
Dalam konteks digitalisasi pendidikan, Kemkomdigi berperan memastikan kesiapan infrastruktur agar platform pembelajaran daring dapat diakses dengan baik oleh sekolah dan pelajar. “Dukungan ini menjadi dasar bagi kebijakan pendidikan berbasis digital,” kata Nezar.
Selain pembangunan jaringan dan perluasan akses internet, pemerintah juga menaruh perhatian pada pengembangan talenta dan literasi digital agar konektivitas yang tersedia benar-benar berdampak pada proses belajar. “Konektivitas harus berdampak pada pendidikan dan masa depan anak,” tegas Nezar.
Ia menambahkan, pemerataan internet untuk pendidikan merupakan bagian dari upaya negara melindungi hak belajar sekaligus memperkecil kesenjangan digital antarwilayah.