JAKARTA — Peringatan Safer Internet Day (Hari Internet Aman Sedunia) menjadi pengingat pentingnya menjaga keamanan remaja saat beraktivitas di dunia maya. Di tengah derasnya arus percakapan di grup chat, cepatnya tren digital, dan kemunculan aplikasi baru, orang tua tetap dapat mendampingi anak tanpa harus memeriksa seluruh isi percakapan atau terlibat perdebatan panjang soal durasi penggunaan gawai.
Kepala Kebijakan Publik Meta di Indonesia, Berni Moestafa, membagikan sejumlah langkah yang bisa dilakukan orang tua agar tetap suportif tanpa merasa kewalahan.
1. Tetap mengikuti dunia digital remaja
Bagi banyak remaja, media sosial menjadi ruang untuk menekuni hobi, belajar hal baru, hingga bergabung dengan komunitas yang diminati. Orang tua mungkin tidak selalu memahami kreator favorit atau lelucon yang beredar, namun dapat memulai percakapan sederhana tentang hal-hal yang disukai anak di internet. Cara ini dinilai dapat membantu remaja lebih terbuka menceritakan aktivitas daringnya.
2. Bangun komunikasi dua arah yang hangat
Menurut Berni, membangun kepercayaan sama pentingnya dengan memanfaatkan fitur keamanan. Ia menyarankan orang tua berdiskusi dari hati ke hati agar kedua pihak memiliki ekspektasi yang sejalan.
“Coba tanyakan hal ini ke remaja di keluarga Anda: Apa yang paling mereka suka saat online, apa yang sebaiknya dilakukan jika menerima pesan dari orang asing, dan kapan waktu yang tepat untuk istirahat dari main gadget. Membicarakan topik ini dengan santai bisa berdampak positif dan menjadikan Anda lebih dekat dengan mereka,” kata Berni dalam keterangannya, Kamis (12/2).
3. Manfaatkan fitur perlindungan bawaan
Berni menjelaskan, saat remaja menggunakan Instagram, Facebook, atau Messenger, akun mereka otomatis masuk ke Akun Remaja yang dilengkapi perlindungan dan fitur keamanan. Salah satunya, orang asing tidak dapat mengirim pesan kepada remaja, dan hanya teman mereka yang bisa memberi tag.
“Konten yang tidak sesuai usia juga akan tersaring otomatis. Bahkan, gambar yang mencurigakan di DM bisa otomatis di- blur. Fitur ini berlaku untuk semua remaja di bawah 18 tahun. Dan untuk remaja di bawah usia 16 tahun, mereka perlu izin orang tua untuk mengubah pengaturan ini,” ujarnya.
4. Atur durasi penggunaan (screen time)
Negosiasi mengenai screen time, terutama pada malam hari, kerap menjadi tantangan. Berni menyebut adanya fitur bawaan yang dapat membantu, termasuk pengingat harian agar remaja beristirahat setelah 60 menit menggunakan media sosial.
Selain itu, Mode Tidur disebut aktif otomatis mulai pukul 22.00 hingga 07.00, dengan mematikan suara notifikasi dan mengirim balasan otomatis. Jika diperlukan pengaturan lebih ketat, orang tua dapat menggunakan fitur pengawasan.
“Dengan begitu, orang tua bisa mengatur batas waktu harian atau memblokir akses di waktu tertentu, seperti saat remaja sedang mengerjakan PR, makan bersama, atau saat tidur di malam hari,” katanya.
5. Jaga komunikasi tetap terbuka dan mengikuti perkembangan
Berni menilai keamanan digital terus berkembang, sehingga orang tua perlu mengikuti perubahan agar diskusi dengan remaja tetap relevan. Topik yang dibahas saat anak berusia 13 tahun, misalnya, belum tentu cukup ketika mereka menginjak usia 16 tahun.
Ia juga menyebut Family Center Education Hub sebagai salah satu rujukan materi dan referensi dari para ahli bagi orang tua yang membutuhkan panduan.
“Anda pasti bisa! Aktivitas remaja di media sosial kini sudah dilengkapi perlindungan bawaan, mulai dari siapa yang bisa menghubungi mereka, konten yang dilihat, hingga durasi penggunaan internet,” tambahnya.
Untuk remaja di bawah 16 tahun, pengaturan tersebut disebut tidak dapat diubah tanpa izin orang tua. Orang tua juga dapat mengaktifkan fitur pengawasan untuk membantu merasa lebih tenang. Meski demikian, Berni menekankan pengaruh terkuat tetap berasal dari orang tua, melalui kebiasaan mengajak remaja berdialog, mengikuti dunia mereka, dan menjadi pihak pertama yang dihubungi anak ketika merasa tidak nyaman saat berinternet.