Komunitas Read Aloud Polewali Mandar menyoroti meningkatnya kasus kecanduan gawai pada anak usia dini di Polewali Mandar (Polman). Dalam dialog di RRI Mamuju, komunitas ini menawarkan solusi melalui rutinitas membaca nyaring sebagai alternatif aktivitas yang lebih sehat bagi anak.
Ketua Komunitas Read Aloud Polman, Sitti Nadia Tri Septiani, menjelaskan kebiasaan sebagian orang tua yang memberikan ponsel untuk menenangkan anak dapat memicu ketergantungan. Menurutnya, gejala kecanduan terlihat ketika anak marah atau mengamuk saat gawainya diambil maupun ketika penggunaannya dibatasi.
“Ciri kecanduan itu ketika gawainya diambil anak langsung ngamuk, tidak bisa lepas. Yang kasih pertama kali kan kita, jadi kitalah yang harus berani menariknya pelan-pelan,” ujar Nadia.
Ia menegaskan pengendalian penggunaan gawai sepenuhnya berada di tangan orang tua, karena orang tualah yang pertama kali memperkenalkan perangkat tersebut kepada anak. Nadia mendorong orang tua untuk lebih tegas mengatur durasi dan pola penggunaan gawai, sekaligus menyediakan aktivitas alternatif yang menyenangkan serta dilakukan secara konsisten.
Salah satu langkah yang disarankan adalah mengganti konsumsi video singkat dengan bacaan yang lebih merangsang imajinasi anak. “Daripada terus kasih video singkat yang gambarnya bergerak terus, pelan-pelan ganti dengan buku digital bergambar. Anak jadi pakai otaknya berimajinasi, tidak cuma menatap layar,” tambahnya.
Di akhir dialog, Nadia juga menyebut orang tua dapat memanfaatkan koleksi buku anak gratis yang tersedia melalui platform resmi Kementerian Pendidikan. Gerakan membaca nyaring ini diharapkan menjadi solusi konkret bagi keluarga di Polewali Mandar untuk mengurangi ketergantungan gawai sekaligus menumbuhkan budaya literasi sejak dini.