Peran komunitas lokal kian terlihat dalam upaya pemerataan akses internet, terutama di wilayah perdesaan dan daerah terpencil. Dengan pendekatan berbasis masyarakat, sejumlah komunitas berusaha menjembatani kesenjangan digital melalui penyediaan akses internet sekaligus peningkatan literasi digital bagi warga.
Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menilai keterlibatan komunitas menjadi faktor penting untuk memperluas konektivitas digital. Salah satu inisiatif yang disorot adalah kolaborasi organisasi nirlaba Common Room Networks Foundation bersama berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan jaringan berbasis komunitas.
Melalui program School of Community Network, Common Room mendampingi masyarakat di sejumlah wilayah untuk membangun dan mengelola jaringan internet secara mandiri. Program ini tidak hanya menitikberatkan pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga penguatan kapasitas warga agar mampu mengoperasikan serta mengembangkan jaringan sesuai kebutuhan setempat.
Model jaringan berbasis komunitas dinilai efektif karena melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pengelolaan. Dengan keterlibatan tersebut, keberlanjutan jaringan diharapkan lebih terjaga sekaligus menumbuhkan rasa kepemilikan warga terhadap akses digital yang tersedia.
Salah satu inovasi yang disebut lahir dari pendekatan ini adalah pembangunan menara internet berbahan bambu di Sumba. Pemanfaatan material lokal dipadukan dengan teknologi nirkabel untuk menghadirkan akses internet di wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau jaringan konvensional.
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan puluhan ribu desa masih menghadapi tantangan pemerataan konektivitas digital. Karena itu, sinergi antara pemerintah, komunitas, dan sektor swasta dipandang penting untuk menghadirkan akses internet yang inklusif dan berkelanjutan. Keberadaan komunitas seperti Common Room juga menunjukkan bahwa pemerataan konektivitas tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi turut ditentukan oleh peran aktif masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan teknologi.
Sejalan dengan upaya mendorong keterlibatan masyarakat dalam mendukung konektivitas digital, detikcom mengundang publik mengajukan individu, komunitas, dan lembaga inspiratif dalam ajang “Apresiasi Konektivitas Digital”. Ajang penghargaan ini ditujukan untuk memberikan apresiasi kepada pihak-pihak yang dinilai berperan penting dalam memperkuat konektivitas digital Indonesia.
Masyarakat dapat mengajukan nominasi melalui detik.com/apresiasikonektivitasdigital dengan mengusulkan individu, komunitas, atau lembaga yang dinilai berkontribusi nyata dalam membuka akses teknologi dan informasi, terutama di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Formulir nominasi dapat diisi mulai 15 November 2025 hingga 28 Februari 2026 dengan melengkapi data diri dan kategori nominasi yang sesuai untuk mendukung proses seleksi penerima penghargaan.
Melalui ajang tersebut, diharapkan kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat dalam menghadirkan akses digital yang merata dapat semakin terdorong. Dengan konektivitas yang lebih merata, masyarakat di daerah 3T disebut memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan bersaing di era digital.