BERITA TERKINI
Kontes AI Indonesia 2026: Bebas Pilih Tools, Etika Tetap Jadi Batas

Kontes AI Indonesia 2026: Bebas Pilih Tools, Etika Tetap Jadi Batas

JAKARTA – Kemajuan artificial intelligence (AI) membuat berbagai alat kreatif semakin mudah diakses publik. Namun di tengah kebebasan itu, Kontes AI Indonesia 2026 yang digagas TIMES Indonesia bersama KITA AI menegaskan satu prinsip: peserta bebas memilih platform AI, tetapi tetap wajib mematuhi etika.

Dalam kontes ini, peserta diperbolehkan menggunakan beragam tools generatif, mulai dari ChatGPT dan Sora dari OpenAI, Gemini dari Google, hingga Midjourney, Runway, Kling, dan platform lainnya. Meski demikian, panitia menekankan bahwa seluruh proses dan hasil karya harus tunduk pada aturan etika yang berlaku.

CTO TIMES Indonesia National Network (TINN) sekaligus Co-Founder KITA AI, Bagus Satriawan, mengatakan kebebasan memilih tools tidak boleh mengaburkan tanggung jawab kreator. “Kami tidak membatasi teknologi yang dipakai. Yang kami batasi adalah pelanggaran nilai. AI itu netral, tapi manusia yang menentukan arahnya,” ujarnya.

Panitia melarang praktik-praktik yang dinilai melanggar etika, termasuk deepfake, face swap menggunakan wajah publik figur, pornografi, eksploitasi visual, serta konten yang bertentangan dengan norma kesopanan dan budaya lokal. Larangan tersebut berlaku untuk semua platform, apa pun tools yang digunakan peserta.

Menurut Bagus, pendekatan ini dimaksudkan untuk menegaskan bahwa persoalan etika tidak melekat pada alat, melainkan pada keputusan kreator. “Tidak ada tools yang salah. Yang salah adalah cara menggunakannya,” tegasnya.

Kebijakan “tools bebas, etika wajib” disebut dirancang agar kontes tetap inklusif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi yang bergerak cepat. Panitia tidak mengunci peserta pada satu platform tertentu, tetapi menempatkan nilai-nilai etika sebagai pagar bersama agar inovasi tetap berjalan secara bertanggung jawab.

“Kalau kita mengunci tools, kita akan tertinggal. Tapi kalau kita mengunci nilai, kita justru aman melangkah ke depan,” kata Bagus.

Di tengah diskursus global mengenai regulasi AI, Kontes AI Indonesia mengedepankan pendekatan yang disebut berbasis nilai, bukan pembatasan teknologi. Model ini dipandang relevan bagi Indonesia yang memiliki keragaman budaya dan norma sosial yang kuat.

Selain sebagai ajang kompetisi, kontes ini juga diposisikan sebagai ruang edukasi publik. Peserta dari berbagai tingkat kemampuan diharapkan memahami bahwa kreativitas berbasis AI tidak hanya diukur dari kecanggihan hasil, tetapi juga dari kepatuhan pada nilai dan etika.

“Tujuan kami sederhana: AI boleh sekreatif apa pun, tapi harus tetap manusiawi,” pungkas Bagus.