Industri kecerdasan buatan (AI) tengah mengalami pertumbuhan pesat, ditandai dengan semakin luasnya adopsi teknologi oleh perusahaan serta derasnya aliran investasi dari pelaku industri dan investor global. Namun, laju ekspansi yang cepat ini juga memunculkan kekhawatiran tentang potensi terjadinya AI bubble atau gelembung AI.
Istilah AI bubble merujuk pada kondisi ketika minat pasar, adopsi, dan pendanaan terhadap AI meningkat tajam, sementara manfaat ekonomi maupun capaian komersialnya belum sepenuhnya terbukti. Dalam situasi seperti ini, valuasi perusahaan dan skala investasi dikhawatirkan tidak lagi seimbang dengan nilai nyata yang dihasilkan.
Kekhawatiran tersebut kerap dibandingkan dengan berbagai fenomena gelembung ekonomi sebelumnya, seperti gelembung dot-com. Saat itu, banyak perusahaan internet runtuh ketika terjadi koreksi besar, tetapi sebagian pelaku justru bertahan dan kemudian menjadi fondasi teknologi modern.
Dalam konteks AI, perhatian tidak hanya tertuju pada harga saham, melainkan juga pada besarnya sumber daya yang digelontorkan untuk membangun infrastruktur pendukung. Analisis yang dihimpun World Economic Forum menyoroti bahwa fenomena yang dianggap menyerupai gelembung terlihat dari investasi berskala sangat besar pada pusat data, GPU, serta mesin fabrikasi chip. Selain itu, valuasi sejumlah perusahaan tertentu melonjak tinggi, dan ekspektasi publik terhadap kemampuan AI untuk mendisrupsi banyak sektor meningkat, bahkan sebelum keuntungan nyata sepenuhnya terealisasi.
Skala investasi yang disebut “belum pernah terjadi sebelumnya” memunculkan pertanyaan tentang risikonya. Jika dana dan sumber daya yang dialokasikan sangat besar, sementara hasilnya tidak sesuai harapan, dampaknya berpotensi meluas, tidak hanya bagi investor, tetapi juga bagi ekosistem teknologi yang lebih kecil.
Meski begitu, pengalaman dari gelembung dot-com menunjukkan bahwa koreksi pasar tidak selalu berarti kehancuran total. Banyak perusahaan internet memang tumbang pada awal 2000-an, tetapi beberapa pemain besar mampu melewati masa sulit dan berkembang. Google tetap melantai di bursa pada 2004 dengan menurunkan kisaran harga IPO, Amazon sempat mengalami anjloknya harga saham namun kemudian bangkit dengan memperluas bisnis ke komputasi awan, sementara Microsoft membangun kembali nilai perusahaan melalui transformasi menuju bisnis cloud.
Perusahaan-perusahaan tersebut kemudian tumbuh besar dan dalam beberapa tahun terakhir menambah sekitar 5 triliun dollar AS nilai pasar, serta kerap disebut sebagai pionir penting dalam gelombang AI modern.
Di sisi lain, tidak semua analis sepakat bahwa istilah AI bubble tepat untuk menggambarkan kondisi saat ini. Sejumlah ekonom menilai situasi sekarang lebih menyerupai boom yang masih ditopang fundamental kuat. Kendati demikian, risiko tetap ada, terutama karena industri AI dinilai sangat bergantung pada segelintir perusahaan besar. Jika ekspektasi pasar tidak tercapai, efeknya dapat merembet ke investor dan pelaku teknologi lain yang berada di lapisan ekosistem berikutnya.