Jakarta — Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno meminta Google turut membantu memastikan penggunaan internet yang aman di Indonesia. Permintaan itu disampaikan mengingat Google merupakan salah satu penyedia layanan dan produk internet terbesar yang digunakan masyarakat.
Pratikno menyampaikan, masyarakat saat ini tidak memiliki banyak pilihan selain memanfaatkan layanan digital, meski tetap ada risiko yang menyertainya. Ia mengibaratkan penggunaan internet seperti perjalanan ibadah haji yang umumnya ditempuh dengan pesawat: ada risiko, tetapi bukan berarti solusinya adalah tidak menggunakan moda tersebut.
Dalam acara Internet Safety Day 2026 di Jakarta pada Selasa, Pratikno menilai penyusunan panduan penggunaan internet untuk orang tua, guru, dan anak belum cukup apabila panduan tersebut tidak benar-benar dipakai. Ia menekankan pentingnya memastikan panduan yang dibuat dapat digunakan secara nyata oleh masyarakat.
Ia juga menyoroti besarnya ketergantungan pengguna di Indonesia terhadap layanan digital dan meminta penyelenggara sistem serta produk internet ikut bertanggung jawab. Pratikno mendorong seluruh penyelenggara layanan internet untuk berinovasi bersama agar masyarakat dapat menjelajah ruang digital dengan aman dan nyaman.
Menurutnya, pemerintah telah berulang kali memberikan edukasi terkait penggunaan internet. Namun, ia menilai edukasi saja tidak memadai. Pratikno menyebut perlunya mekanisme otomatisasi agar edukasi dapat tersampaikan dan berjalan efektif. Ia mengingatkan bahwa bila praktik digital berdampak buruk pada kesehatan fisik atau mental anak, hal tersebut menjadi tanggung jawab bersama.
Meski demikian, Pratikno mengapresiasi dukungan Google dalam menyediakan layanan internet di Indonesia. Ia berharap adanya penguatan sistem yang dapat menjamin keamanan dan kenyamanan semua pengguna di ruang digital.
Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Urusan Digital Meutya Hafid juga menekankan pentingnya mendengarkan pandangan anak dalam penyusunan regulasi perlindungan anak di ruang digital. Menurutnya, selain pakar anak dan organisasi nonpemerintah, anak merupakan pemangku kepentingan kunci yang pandangannya perlu diperhitungkan.