MyRepublic Indonesia bersiap melakukan Uji Layak Operasi (ULO) bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk layanan MyRepublic Air, proyek internet unlimited berbasis Fixed Wireless Access (FWA) yang kerap disebut sebagai “internet rakyat”. Layanan ini dirancang memanfaatkan spektrum pita frekuensi 1,4 GHz yang baru saja dimenangkan MyRepublic dalam proses lelang.
MyRepublic Air dikembangkan sebagai layanan FWA dengan dukungan teknologi yang disebut perusahaan sebagai True 5G-Fiber Quality dan Truly Unlimited. Berbeda dari layanan fixed broadband berbasis fiber to the home (FTTH) yang mengandalkan kabel serat optik, FWA menyalurkan koneksi internet ke rumah melalui spektrum frekuensi.
Dalam lelang spektrum pita frekuensi 1,4 GHz yang digelar Komdigi, MyRepublic Indonesia memenangkan dua regional. Regional dua mencakup wilayah Sumatera, Bali, dan Nusa Tenggara, sementara regional tiga meliputi Kalimantan dan Sulawesi.
Chief Technology Officer (CTO) MyRepublic Indonesia, Hendra Gunawan, menjelaskan bahwa karakter FWA berbeda dengan FTTH. Jika FTTH menggunakan kabel optik, FWA mengandalkan spektrum frekuensi. Menurut dia, penggunaan 1,4 GHz memungkinkan jangkauan yang lebih luas.
“Ditambah dengan frekuensi 1,4 Ghz ini membuat radiusnya bisa lumayan jauh. Jadi, kalau di rumah itu bisa tembus sampai tiga level dinding. Ditambah dengan bandwidth tinggi yang bisa disesuaikan dengan instruksi pemerintah,” kata Hendra.
Hendra menyebut tantangan utama implementasi spektrum 1,4 GHz untuk FWA adalah ekosistemnya yang masih baru. Ia juga mengatakan Indonesia menjadi negara pertama yang menggunakan spektrum 1,4 GHz untuk Fixed Wireless Access.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, MyRepublic Indonesia melakukan pengembangan dari sisi radio hingga jaringan, serta melakukan pengujian secara berkala. “Semoga dalam waktu dekat kami bisa melakukan ULO (Uji Layak Operasi) dengan Komdigi untuk MyRepublic Air dan hasilnya sesuai harapan,” ujar Hendra.
MyRepublic juga menyatakan optimistis realisasi FWA berbasis spektrum 1,4 GHz dapat segera dilakukan bersama ZTE. Menurut Hendra, kerja sama kedua pihak telah berlangsung cukup lama, sehingga diharapkan mampu menghasilkan kontribusi yang besar bagi Indonesia.
Ke depan, akses internet di Indonesia diproyeksikan tidak hanya bertumpu pada fixed broadband (FTTH) dan mobile broadband. Kehadiran FWA diposisikan sebagai pelengkap, terutama untuk wilayah yang belum terjangkau jaringan fiber.
Secara karakter penggunaan, FTTH dan FWA sama-sama ditujukan untuk pemakaian tetap dan tidak berpindah tempat seperti mobile broadband. Perbedaannya, FTTH membutuhkan kabel untuk menghubungkan rumah ke jaringan, sedangkan FWA tidak memerlukan kabel untuk mengantarkan koneksi internet ke router WiFi karena memanfaatkan spektrum frekuensi.
Hendra juga menyebut implementasi FWA di Indonesia akan menggunakan teknologi 5G standalone (5G SA), dengan spektrum 1,4 GHz sebagai basis jangkauan.
Selain aspek teknologi, FWA juga diarahkan untuk membantu menjangkau area blankspot. Di wilayah kepulauan atau daerah dengan kontur geografis yang beragam, pembangunan jaringan kabel fiber dapat menjadi lebih menantang. Karena itu, FWA dipandang sebagai opsi untuk memperluas akses internet ke rumah-rumah di area yang belum terlayani.
MyRepublic, melalui laman resminya, merangkum pilihan teknologi internet berdasarkan ketersediaan dan kebutuhan. Jika FTTH dan FWA tersedia di suatu lokasi, FTTH dinilai tetap menjadi pilihan utama karena stabil, cepat, dan konsisten. Namun jika FTTH belum tersedia, FWA disebut lebih baik dibanding mengandalkan paket mobile, karena koneksinya lebih stabil berkat perangkat penerima tetap dan kapasitas jaringan yang lebih terkontrol. Sementara itu, mobile broadband diposisikan sebagai pelengkap untuk kebutuhan mobilitas harian.
Dengan adanya lelang spektrum 1,4 GHz, FWA diperkirakan akan semakin berkembang dan menjadi pilihan yang lebih menarik bagi wilayah yang belum dapat dijangkau fiber optik. Dalam konteks ini, FTTH dan FWA dinilai bukan saling menggantikan, melainkan dua solusi yang saling melengkapi untuk memperluas pemerataan akses digital di Indonesia.