BERITA TERKINI
Peneliti AS Teleportasi Keadaan Kuantum Cahaya Lewat Internet Aktif 30 Km

Peneliti AS Teleportasi Keadaan Kuantum Cahaya Lewat Internet Aktif 30 Km

Para peneliti di Amerika Serikat mencatat capaian baru dalam sains dan teknologi pada 2024. Untuk pertama kalinya, keadaan kuantum cahaya berhasil diteleportasi melalui jaringan internet aktif dengan memanfaatkan lebih dari 30 kilometer kabel serat optik.

Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Optica pada Desember 2024. Pencapaian tersebut diraih di tengah padatnya lalu lintas data digital—mulai dari transaksi perbankan hingga pesan singkat dan video daring—kondisi yang sebelumnya dinilai mustahil untuk komunikasi kuantum.

Meski istilah “teleportasi” kerap diasosiasikan dengan perpindahan manusia seperti dalam film fiksi ilmiah, penelitian ini tidak memindahkan objek secara fisik. Keberhasilan tersebut justru menunjukkan bahwa teknologi kuantum dapat berjalan berdampingan dengan internet konvensional.

Para peneliti menilai terobosan ini membuka peluang pengembangan jaringan komputasi kuantum, sistem enkripsi data yang jauh lebih aman, serta teknologi sensor generasi baru.

Teleportasi kuantum bekerja dengan memindahkan informasi tentang keadaan kuantum dari satu partikel ke partikel lain di lokasi berbeda. Prinsipnya memanfaatkan sifat mekanika kuantum, di mana identitas suatu partikel dapat “ditanamkan” ke partikel lain melalui proses yang sangat terkontrol, sementara keadaan awalnya dihancurkan.

Tantangan utama dalam proses ini adalah menjaga keadaan kuantum tetap stabil. Keadaan kuantum dikenal rapuh dan mudah rusak akibat gangguan lingkungan, seperti radiasi elektromagnetik atau panas. Dalam jaringan internet nyata yang dipenuhi lalu lintas data berkecepatan sangat tinggi hingga ratusan gigabit per detik, potensi gangguan meningkat sehingga stabilitas transmisi menjadi persoalan besar.

Untuk mengatasinya, tim peneliti mengembangkan teknik khusus dengan membatasi jalur foton dan menempatkannya pada panjang gelombang yang paling minim gangguan. “Kami mempelajari dengan cermat bagaimana cahaya menyebar dan menempatkan foton pada titik di mana gangguan dapat ditekan seminimal mungkin,” ujar Prem Kumar, insinyur komputer dari Northwestern University yang memimpin penelitian tersebut.

Keberhasilan ini juga dipandang sebagai bukti bahwa komunikasi kuantum tidak harus menunggu pembangunan infrastruktur baru yang mahal, karena dapat diuji dan dijalankan di atas jaringan serat optik yang sudah digunakan untuk internet aktif.