Pengamat pendidikan Indra Charismiadji mengingatkan bahwa kecerdasan buatan (AI) pada dasarnya merupakan alat bantu yang dapat mempermudah kerja pendidik sekaligus meningkatkan minat belajar siswa. Menurutnya, AI bisa dimanfaatkan untuk membuat materi pembelajaran lebih variatif, tanpa menggeser peran utama manusia dalam proses pendidikan.
Indra mengaku telah banyak menggunakan AI untuk menyusun berbagai materi, mulai dari video tutorial hingga konten visual. Ia menilai pemanfaatan teknologi tersebut membuat proses pembuatan bahan ajar menjadi lebih mudah dan terjangkau.
“AI itu adalah alat bantu. Saya sekarang banyak membuat video tutorial atau video materi pembelajaran dengan bantuan AI. Itu jauh lebih mudah, lebih murah, bahkan banyak yang gratis,” ujar Indra dalam percakapan lewat telepon dengan RMOL, dikutip Sabtu, 7 Februari 2026.
Ia menilai penyajian materi dengan bantuan AI dapat membuat pembelajaran lebih menarik dibandingkan metode konvensional yang hanya mengandalkan ceramah di kelas. Namun, ia menekankan pentingnya kewaspadaan agar penggunaan AI tidak berujung pada ketergantungan.
“Jangan sampai kita justru bergantung pada AI. AI harus tetap menjadi alat bantu, sementara yang utama tetap manusianya,” tegasnya.
Indra juga menyoroti kekeliruan yang kerap terjadi di kalangan pelajar, yakni menjadikan AI sebagai “mesin pencari jawaban”. Praktik tersebut dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan pendidikan masa kini yang menuntut kemampuan berpikir kreatif dan inovatif.
“Yang kita butuhkan justru bagaimana anak-anak didorong menjadi inovator, membuat sesuatu yang baru, bukan sekadar menjawab soal,” katanya.
Lebih lanjut, Indra menilai kehadiran AI akan mengubah cara belajar dan cara mengajar. Ia membandingkan kondisi saat ini dengan era sebelum internet, ketika akses referensi sangat terbatas dan banyak bergantung pada buku atau perpustakaan. Kini, dengan bantuan AI, pelajar dapat memperoleh informasi lebih cepat sekaligus menelusuri sumber data dan membandingkannya.
“Kita bisa bertanya kembali, datanya diambil dari mana, pembandingnya apa. Ini yang membedakan era dulu dan sekarang, dan ini menuntut perubahan cara kita belajar dan mengajar,” jelasnya.
Terkait kekhawatiran ketergantungan siswa terhadap AI, Indra menilai hal tersebut sebagai bagian dari proses transisi teknologi, serupa dengan kehadiran komputer pada masa lalu. Ia menegaskan bahwa manusia tetap harus menjadi pengendali utama dalam penggunaan teknologi.
“Jangan sampai kita diatur oleh mesin atau teknologi. Manusialah yang harus menjadi driving force-nya,” ujarnya.
Indra menambahkan bahwa dirinya juga memanfaatkan AI untuk berbagai keperluan, seperti penulisan surat dan proposal hingga pembuatan gambar dan video. Meski demikian, ia menekankan bahwa arah dan tujuan penggunaan AI tetap harus ditentukan oleh manusia.
Menatap masa depan pendidikan, Indra menilai AI merupakan tantangan sekaligus peluang besar di era digital. Jika dimanfaatkan secara bijak, teknologi ini dapat mempercepat proses pembelajaran dan membuka ruang kreativitas baru.
“Sekarang satu orang bisa melakukan banyak hal sekaligus. AI membantu mempercepat proses, mempermudah pekerjaan, dan membuka peluang baru dalam pendidikan, asal tetap digunakan dengan bijak,” pungkasnya.