BERITA TERKINI
Pengguna ChatGPT Sulit Beralih dari GPT-4o Meski Model Baru Lebih Canggih

Pengguna ChatGPT Sulit Beralih dari GPT-4o Meski Model Baru Lebih Canggih

Ketika OpenAI mengumumkan model GPT-4o akan dipensiunkan dari ChatGPT, respons sebagian pengguna muncul di luar dugaan. Tagar seperti #4oforever dan #keep4o ramai digunakan, disertai unggahan emosional, tulisan panjang di Medium, hingga petisi online. Reaksi ini menandakan ada kelompok pengguna yang merasa terikat dengan GPT-4o, meski tersedia model yang lebih baru.

Secara teknis, model yang lebih baru seperti GPT-5.2 disebut lebih kuat. Namun, sejumlah pengguna menilai GPT-4o memiliki keunggulan yang sulit diukur lewat tolok ukur (benchmark), yakni gaya komunikasi yang dianggap lebih hangat dan membuat pengguna merasa dipahami.

Pengguna menggambarkan GPT-4o mampu merespons curahan pikiran yang berantakan menjadi jawaban yang terasa tepat sasaran. Dari teks panjang berisi emosi, kebingungan, atau stres, model ini dinilai bisa menangkap inti masalah sekaligus perasaan pengguna, lalu menawarkan solusi yang relevan.

Selain itu, GPT-4o disebut terasa lebih natural saat menghadapi situasi spontan, tidak kaku, dan tidak terlalu cepat “memotong” percakapan dengan peringatan atau penolakan—hal yang menurut sebagian pengguna lebih sering mereka rasakan pada model baru.

Berdasarkan pantauan KompasTekno di platform Medium, beberapa akun seperti “Keep 4o forever” dan “REI Creator” menjadi contoh pengguna yang vokal menyampaikan alasan mengapa mereka enggan beralih dari model rilisan Mei 2024 tersebut.

Dalam tulisan berjudul “Why do we want to keep #4oforever?”, akun “Keep 4o forever” menyebut hubungan antara GPT-4o dan pengguna terbentuk dari kolaborasi unik antara miliaran parameter model dan kepribadian manusia yang tidak bisa disalin begitu saja. Mereka menilai, banyak orang menghabiskan ratusan jam membentuk cara GPT-4o merespons—untuk kebutuhan pekerjaan, kreativitas, maupun kehidupan pribadi—hingga pola komunikasi itu terasa akrab dan nyaman.

Karena itu, pergantian ke model baru, meski dianggap lebih canggih, dipersepsikan seperti mengganti rekan kerja lama, asisten kreatif, atau terapis yang sudah dipercaya dengan sosok yang “lebih pintar” namun terasa asing.

Faktor emosional juga disebut berperan. Bagi sebagian pengguna, ikatan ini bukan karena menganggap AI sebagai manusia, melainkan karena GPT-4o dinilai menyediakan sesuatu yang tidak selalu hadir secara konsisten di dunia nyata: waktu, perhatian, dan penerimaan tanpa penghakiman.

GPT-4o juga digambarkan sebagai ruang aman untuk membicarakan hal-hal sensitif, seperti kecemasan, kesehatan mental, trauma, orientasi seksual, atau tekanan hidup tanpa rasa malu maupun takut dihakimi. Sejumlah pengguna menilai model ini tidak sekadar mengiyakan, tetapi dapat menegur, menahan, dan mengarahkan dengan cara yang lembut. Bahkan ketika diminta agar tidak menjadi “yes-man”, GPT-4o tetap terasa suportif tanpa menggurui.

Gelombang respons tersebut menunjukkan bahwa bagi sebagian pengguna, pengalaman berinteraksi dengan model AI tidak hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga soal kenyamanan komunikasi dan rasa keterhubungan yang terbentuk selama penggunaan.