Pemerintah Prancis sedang mengkaji kemungkinan mengirimkan terminal satelit Eutelsat ke Iran untuk membantu warga sipil, setelah otoritas Iran memberlakukan pemadaman layanan internet guna meredam gelombang kerusuhan domestik yang disebut paling brutal dalam beberapa dekade terakhir.
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot mengatakan pemerintahnya tengah mengeksplorasi berbagai opsi, termasuk opsi pengiriman perangkat Eutelsat. Pernyataan itu disampaikan Barrot pada Rabu di majelis rendah parlemen, menanggapi pertanyaan seorang anggota parlemen mengenai kemungkinan pengiriman perangkat tersebut ke Iran.
Eutelsat, yang didukung oleh pemerintah Prancis dan Inggris, memiliki OneWeb. OneWeb disebut sebagai satu-satunya konstelasi satelit orbit rendah Bumi (low Earth orbit/LEO) selain Starlink milik Elon Musk.
Satelit-satelit tersebut digunakan untuk memancarkan layanan internet dari luar angkasa, menyediakan konektivitas broadband bagi bisnis, pemerintah, dan konsumen di wilayah yang minim akses layanan.
Dalam beberapa hari terakhir, otoritas Iran dilaporkan melakukan penindakan keras yang mematikan dan disebut telah menewaskan ribuan orang dalam aksi protes menentang pemerintahan ulama. Pada saat yang sama, pemerintah setempat memberlakukan penutupan hampir total terhadap layanan internet.
Meski demikian, sejumlah warga Iran dilaporkan masih dapat terhubung ke layanan internet satelit Starlink, menurut keterangan tiga sumber di dalam negeri. Namun, layanan Starlink juga disebut mengalami penurunan, menurut Alp Toker, pendiri kelompok pemantau internet NetBlocks, pada awal pekan ini.
Sementara itu, Eutelsat menolak memberikan komentar ketika dimintai tanggapan mengenai pernyataan Barrot maupun aktivitas perusahaan tersebut di Iran.
Starlink dilaporkan memiliki lebih dari 9.000 satelit, sehingga dapat menawarkan kecepatan lebih tinggi dibandingkan armada Eutelsat yang berjumlah sekitar 600 satelit. Terminal Starlink yang menghubungkan pengguna ke jaringan juga dinilai lebih murah dan lebih mudah dipasang.