Jakarta—Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan konten digital dinilai memiliki sisi gelap yang perlu diwaspadai orang tua. Psikiater Anak dan Keluarga, Prof. Tjhin Wiguna, mengingatkan bahwa internet dan AI tidak bersifat netral karena algoritma platform pada dasarnya dirancang untuk menahan pengguna agar bertahan selama mungkin.
Menurut Prof. Tjhin, kondisi ini berisiko bagi anak-anak yang otaknya masih dalam masa pertumbuhan. Ia menekankan, durasi penggunaan gawai yang berlebihan tanpa pengawasan dapat berdampak permanen pada fungsi otak anak.
Prof. Tjhin menjelaskan bagian otak depan (prefrontal cortex) berperan penting dalam mengatur kontrol emosi, perilaku, dan kendali diri. Jika anak terpapar konten digital secara berlebihan tanpa edukasi yang memadai, fungsi otak depan tersebut dapat menjadi “tumpul”.
Ia mengatakan, gangguan pada kontrol emosi dan kendali diri dapat terlihat pada anak yang telah memasuki tahap adiksi internet. “Kontrol emosi dan diri akan terganggu. Anak-anak yang sudah berada pada tahap adiksi internet akan menunjukkan gejala sakit secara psikis; mereka menjadi mudah uring-uringan, marah-marah, hingga kehilangan kendali saat gawai dijauhkan,” ujar Prof. Tjhin.
Dalam pengamatan Prof. Tjhin, anak-anak masa kini juga semakin cakap mencari celah untuk menghindari pengawasan, termasuk menggunakan VPN untuk menembus filter agar tidak terpantau orang tua.
Terkait fitur perlindungan seperti Family Link, Prof. Tjhin menilai fitur tersebut kerap tidak disukai anak karena dianggap membatasi ruang gerak. Namun, ia menegaskan bahwa regulasi teknologi saja tidak cukup untuk membangun kebiasaan digital yang sehat.
Ia menekankan pentingnya pola asuh digital yang menempatkan keluarga sebagai pihak yang memegang kontrol penuh, sekaligus tetap mendampingi anak secara emosional. Setiap keluarga, menurutnya, perlu memiliki aturan sendiri yang disesuaikan dengan nilai dan karakter masing-masing. “Namun, regulasi awal harus lahir dari dalam keluarga, bukan hanya dari platform,” katanya.
Prof. Tjhin juga menyoroti perlunya keselarasan peran ayah dan ibu dalam edukasi digital. Ia menilai aturan dan visi yang berbeda di antara orang tua berpotensi memunculkan bias atau ketidakseimbangan dalam perkembangan karakter anak.
Di atas semuanya, Prof. Tjhin menegaskan tidak ada yang dapat menggantikan kekuatan hubungan atau bonding dalam keluarga. Ketika ikatan keluarga kuat, ia menilai anak akan lebih mudah membangun kesadaran untuk mengontrol diri. Ia juga menyebut keluarga perlu membekali anak dengan pengetahuan tentang budi pekerti sebagai kompas untuk membedakan yang baik dan buruk saat anak tidak sedang diawasi.