Semakin banyak anak menghabiskan waktu di depan layar dibandingkan bermain di luar rumah. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada kebiasaan anak, tetapi juga dapat berkaitan dengan suasana hati orang tua yang melihatnya sehari-hari.
Perkembangan teknologi dan kemudahan akses informasi serta komunikasi membuat anak makin akrab dengan gadget. Namun, kebiasaan tersebut berisiko membentuk gaya hidup sedenter atau kurang bergerak. Kondisi ini kerap memunculkan kekhawatiran orang tua terkait dampak jangka panjang, termasuk kemungkinan efek negatif penggunaan gadget hingga anak beranjak dewasa.
Sejumlah peneliti menyoroti adanya hubungan antara aktivitas anak dan kondisi emosional orang tua. Pakar dari SWPS University di Polandia meneliti gaya hidup sedenter pada anak dan dampaknya terhadap kesehatan mental keluarga. Studi itu dipublikasikan dalam jurnal Mental Health and Physical Activity melalui makalah berjudul “Association between depressive symptoms and sedentary behavior in parent-child relationships: Longitudinal effects within and between persons.”
Penelitian tersebut memeriksa bagaimana gaya hidup sedenter memengaruhi kesehatan mental dalam keluarga. Hasilnya menunjukkan anak dengan aktivitas terbatas dan cenderung lebih banyak berdiam diri dapat mengalami perubahan suasana hati yang kurang stabil. Kondisi emosional anak ini, menurut peneliti, dapat ikut memengaruhi mental dan suasana hati orang tua.
Psikolog dari Center for Applied Research on Health Behavior and Health, Maria Siwa, Ph.D., menyampaikan bahwa situasi ini mungkin berkaitan dengan beban psikologis orang tua saat melihat anak menarik diri dari aktivitas. Hal tersebut dapat memunculkan rasa tidak berdaya dan kekhawatiran tentang perkembangan anak, yang pada akhirnya membuat suasana hati dan mental orang tua menurun.
Dalam studi yang sama, dampak aktivitas anak yang sangat pasif digambarkan luas, mencakup aspek fisik hingga psikologis pada anak dan keluarga. Para peneliti menekankan pentingnya perubahan gaya hidup anak demi masa depan mereka.
Dampak pada kesehatan mental dan otak anak
Penelitian tersebut mengaitkan screen time berlebihan dengan meningkatnya gejala depresi pada anak. Alasan pastinya belum dipastikan, namun kemungkinan terkait dengan berkurangnya aktivitas fisik, minimnya interaksi sosial, serta paparan konten digital yang berlebihan. Studi itu juga menyinggung bahwa kurang bergerak dapat menghambat optimalisasi struktur otak, termasuk gangguan pada volume hipokampus yang berperan penting dalam memori dan pengendalian emosi.
Dampak pada hubungan sosial
Aktivitas fisik umumnya melibatkan interaksi sosial yang membantu anak melatih kemampuan berkomunikasi. Pada anak dengan gaya hidup sedenter, kedekatan atau attachment dengan teman sebaya disebut cenderung lebih rendah.
Dampak pada kesehatan fisik
Kebiasaan anak yang minim pergerakan dapat meningkatkan risiko obesitas serta risiko penyakit jantung di masa depan. Studi tersebut juga menyebut fungsi eksekutif otak dalam menyimpan memori dapat menjadi lebih terbatas, mengingat kemampuan ini biasanya meningkat melalui aktivitas fisik rutin.
Selain memaparkan dampak, terdapat pula sejumlah saran yang merujuk pada jurnal di PLOS One tentang pengaruh interaksi orang tua-anak terhadap aktivitas anak. Tiga langkah yang disebut dapat membantu anak keluar dari pola sedenter.
1. Meningkatkan interaksi langsung orang tua-anak
Orang tua tidak hanya berperan mengawasi, tetapi juga membangun hubungan yang sehat. Contohnya dengan menanyakan aktivitas anak dan mencoba terlibat dalam kegiatan tersebut. Anak juga cenderung meniru kebiasaan orang tua; ketika orang tua aktif bergerak, anak dinilai lebih termotivasi melakukan hal serupa.
2. Mendorong interaksi langsung dengan teman sebaya
Orang tua dapat mendorong anak bergabung dalam klub, organisasi, atau kegiatan tim sesuai hobi dan minat. Kedekatan dengan teman sebaya disebut dapat meningkatkan hormon oksitosin yang berperan menurunkan stres.
3. Mengajak anak melakukan aktivitas fisik
Olahraga bersama dapat menjadi pilihan aktivitas yang menyenangkan. Aktivitas fisik disebut dapat memicu pelepasan endorfin yang membantu memperbaiki suasana hati anak dan orang tua, sekaligus mengurangi beban kecemasan orang tua.
Temuan ini menunjukkan bahwa kebiasaan anak yang pasif dan terlalu banyak waktu layar bukan hanya persoalan gaya hidup anak, tetapi juga dapat berdampak pada dinamika emosional dalam keluarga. Perubahan sederhana melalui interaksi dan aktivitas fisik dinilai dapat membantu anak lebih aktif sekaligus mendukung kesehatan mental orang tua.