Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai merambah industri branding dan pemasaran. Hal itu terlihat dalam penyelenggaraan Top Brand Award 2026 yang menghadirkan AI sebagai bagian dari pengalaman acara.
Frontier bersama Majalah Marketing menggelar Top Brand Award 2026 di Intercontinental Bali Resort, Jimbaran, Bali, dengan konsep berbasis teknologi digital. Ajang ini mengusung tema Respectful Brand dan disebut sebagai penyelenggaraan Top Brand Award pertama yang dipandu oleh AI MC.
Dalam acara tersebut, teknologi yang digunakan meliputi TOBA virtual assistant berbasis HERA serta Lisa sebagai virtual AI MC. Kehadiran AI ini menggambarkan bagaimana teknologi digital mulai dimanfaatkan untuk mendukung komunikasi merek dan interaksi dengan audiens melalui pendekatan yang lebih modern.
Pendekatan berbasis digital ini juga menegaskan bahwa transformasi tidak hanya terjadi pada produk dan layanan teknologi, tetapi turut menyentuh strategi pemasaran, komunikasi merek, hingga penyelenggaraan event korporasi.
CEO Frontier sekaligus Founder Top Brand Award, Handi Irawan D., menekankan bahwa di era ekonomi digital, nilai perusahaan semakin didominasi oleh aset tak berwujud seperti merek. Menurutnya, valuasi merek kini menjadi bagian penting dalam strategi bisnis modern.
“Dengan memahami nilai sebuah merek, perusahaan dapat memiliki panduan yang jelas dalam mengambil keputusan besar seperti menentukan harga yang wajar dalam proses merger dan akuisisi,” tuturnya.
Ia menambahkan, pemahaman nilai merek juga menjadi landasan dalam negosiasi lisensi atau joint venture, sekaligus membantu manajemen menyusun strategi pengembangan merek yang lebih terukur. “Melalui valuasi ini, tim pemasaran dan keuangan dapat memiliki bahasa yang sama dalam melihat merek sebagai aset finansial yang mampu menjamin stabilitas permintaan dan arus kas di masa depan,” imbuh Handi.
Dalam konteks transformasi digital, brand equity dipandang sebagai bagian dari intangible asset yang menopang nilai perusahaan di era ekonomi berbasis pengetahuan dan teknologi.
Dalam presentasinya, Handi memaparkan lima metode valuasi merek yang digunakan dalam pendekatan Top Brand. Pertama, Replacement Cost Method, yakni menghitung nilai merek berdasarkan biaya yang dibutuhkan untuk membangun kembali merek dari awal. Kedua, Market-Based Approach, yang menentukan nilai merek dengan membandingkannya dengan transaksi atau nilai pasar merek lain yang sejenis.
Metode ketiga adalah Price Premium Method, yang mengukur nilai merek dari kemampuan brand menghasilkan harga jual lebih tinggi dibanding produk tanpa merek atau kompetitor. Keempat, Income Split Method, yang menghitung kontribusi merek terhadap pendapatan perusahaan. Kelima, Royalty Relief Method, yang memperkirakan nilai merek berdasarkan biaya royalti yang harus dibayar jika merek tersebut dilisensikan dari pihak lain.
Handi menegaskan, merek yang kuat dinilai mampu menjaga stabilitas permintaan dan memberikan arus kas di masa depan bagi perusahaan. Ia berharap pelaku industri tidak hanya berfokus pada efisiensi jangka pendek, tetapi mulai melihat merek sebagai aset finansial strategis yang perlu terus dikembangkan valuasinya demi keberlanjutan bisnis.
Penggunaan AI MC dan virtual assistant dalam Top Brand Award 2026 diklaim sebagai indikasi bahwa teknologi AI mulai digunakan dalam ekosistem pemasaran dan branding. Integrasi AI dalam event, komunikasi merek, serta pengelolaan aset merek menunjukkan peran teknologi digital yang kian besar dalam membentuk strategi pemasaran modern.
Top Brand Award merupakan penghargaan bagi merek di Indonesia yang diberikan berdasarkan survei nasional Frontier, sekaligus menjadi indikator kekuatan brand di pasar.