BERITA TERKINI
Yayasan Asshiddiq Soroti Kecanduan Gadget dan Bullying sebagai Ancaman di Sekolah

Yayasan Asshiddiq Soroti Kecanduan Gadget dan Bullying sebagai Ancaman di Sekolah

Kecanduan gadget dan praktik bullying atau perundungan dinilai menjadi dua persoalan serius yang kian marak di dunia pendidikan. Fenomena ini turut menjadi perhatian Yayasan Asshiddiq Peduli Umat melalui unit pendidikan PGIT, TKIT, SDIT, dan SMP Islam Asshiddiq di Bone.

Berdasarkan hasil assessment yang dilakukan yayasan, ditemukan sejumlah siswa menunjukkan gejala kelelahan saat belajar, seperti lemas, mengantuk, kurang ceria, dan sulit fokus di kelas. Kondisi tersebut disebut dipicu kebiasaan bermain handphone hingga larut malam tanpa pengawasan orang tua.

Ketua Yayasan Asshiddiq Peduli Umat, Ismail, S.Pd.I, menyatakan kecanduan gadget pada anak sudah berada pada tahap mengkhawatirkan. Ia menyebut banyak anak bermain handphone hingga tengah malam, sehingga keesokan harinya datang ke sekolah dalam kondisi lelah dan tidak siap menerima pelajaran. Pernyataan itu disampaikan Ismail saat menjadi narasumber Bincang Siang RRI Bone, Rabu (4/2/2026).

Menurut Ismail, kebiasaan tersebut berdampak langsung pada kesehatan fisik, kestabilan emosi, hingga prestasi belajar siswa. Anak dinilai dapat menjadi kurang fokus, mudah tersinggung, dan kehilangan semangat belajar apabila dibiarkan tanpa pendampingan serta pengawasan yang memadai dari orang tua.

Selain adiksi gadget, yayasan juga menaruh perhatian pada kasus bullying. Bentuk perundungan yang ditemukan beragam, mulai dari mengganggu teman, perilaku iseng berlebihan, hingga tindakan fisik seperti memukul. Pihak sekolah memantau setiap perilaku untuk memastikan apakah terjadi sesaat atau berulang sehingga memerlukan penanganan khusus.

Untuk menangani persoalan tersebut, yayasan melakukan pendataan dan pendampingan secara menyeluruh. Sekolah tidak hanya mencatat gejala yang tampak di kelas, tetapi juga menggali akar persoalan melalui assessment psikologis yang terukur, dengan menyiapkan guru Bimbingan Konseling (BK) berkualifikasi sarjana hingga magister psikologi.

Ismail menambahkan, tantangan yang kerap dihadapi adalah penolakan sebagian orang tua terhadap hasil assessment yang disampaikan sekolah. Ia menegaskan pihaknya tidak bermaksud menghakimi, melainkan menyampaikan kondisi riil anak agar dapat ditangani bersama demi tumbuh kembang siswa yang lebih baik, baik secara akademik maupun psikologis.