BERITA TERKINI
Demis Hassabis Raih Pendanaan Rp34 Triliun untuk Isomorphic Labs, Targetkan Percepatan Penemuan Obat dengan AI

Demis Hassabis Raih Pendanaan Rp34 Triliun untuk Isomorphic Labs, Targetkan Percepatan Penemuan Obat dengan AI

Demis Hassabis, salah satu pendiri Google DeepMind, mengumumkan keberhasilan mengumpulkan pendanaan sebesar USD 2,1 miliar atau sekitar Rp34 triliun untuk perusahaan AI kesehatan miliknya, Isomorphic Labs. Nilai pendanaan tersebut menempatkan Isomorphic Labs sebagai salah satu startup AI kesehatan yang paling ambisius saat ini.

Di balik besarnya investasi, Isomorphic Labs membawa misi yang menonjol: memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mempercepat penemuan obat dan membantu ilmuwan mengembangkan pengobatan berbagai penyakit lebih cepat dibandingkan metode tradisional. Sejumlah penyakit berat disebut menjadi sasaran utama, mulai dari kanker, infeksi mematikan, hingga penyakit kompleks lainnya.

Isomorphic Labs dibangun dengan fondasi teknologi yang sudah dikenal luas dari DeepMind, yakni AlphaFold. Sistem AI ini mendapat perhatian besar karena kemampuannya memprediksi struktur protein manusia dengan tingkat akurasi tinggi. Teknologi tersebut kemudian menjadi pijakan bagi upaya Isomorphic Labs untuk memperluas penerapan AI di bidang riset obat.

Dalam konteks medis, protein memegang peran penting karena terlibat dalam hampir seluruh proses biologis pada tubuh manusia. Protein memengaruhi cara sel bekerja, perkembangan penyakit, serta bagaimana obat bereaksi di dalam tubuh. Namun, memahami struktur protein selama ini merupakan pekerjaan yang rumit, mahal, dan dapat memakan waktu bertahun-tahun, termasuk melalui eksperimen laboratorium yang kompleks untuk memetakan satu struktur protein. AlphaFold dipandang sebagai terobosan karena memungkinkan proses tersebut dilakukan lebih cepat dengan bantuan AI.

Melalui Isomorphic Labs, Hassabis menargetkan kemampuan AI tidak hanya berhenti pada prediksi protein. Perusahaan ini ingin membangun sistem yang dapat membantu ilmuwan menemukan kandidat obat baru dalam waktu yang lebih singkat. Dalam pendekatan tradisional, pengembangan satu obat baru kerap memakan waktu lebih dari 10 tahun dengan biaya miliaran dolar, serta tingkat kegagalan yang tinggi. AI dinilai berpotensi mempercepat analisis biologis dan simulasi molekul, sehingga identifikasi kandidat obat dapat dilakukan lebih efisien.

Meski demikian, Hassabis menekankan AI bukan solusi instan yang otomatis menyembuhkan semua penyakit. Sejumlah pakar kesehatan dan teknologi menilai AI lebih tepat dipahami sebagai alat bantu yang memperkuat kerja ilmuwan, termasuk untuk mengolah data biologis dalam skala yang sulit dicapai manusia. Dalam kerangka ini, AI diposisikan sebagai “asisten” yang mempercepat proses penelitian, bukan pengganti peneliti.

Pendanaan USD 2,1 miliar juga mencerminkan meningkatnya perhatian investor terhadap masa depan AI di sektor kesehatan. Dalam beberapa tahun terakhir, AI tidak lagi hanya digunakan untuk aplikasi digital seperti chatbot, pembuatan gambar, atau otomasi pekerjaan perkantoran, tetapi mulai masuk ke bidang yang lebih kompleks seperti farmasi, genetika, dan penelitian medis.

Di sisi lain, perkembangan AI kesehatan turut memunculkan pertanyaan etis yang terus dibahas, termasuk soal keamanan data medis, transparansi algoritma, dan risiko ketergantungan pada teknologi. Terlepas dari pro dan kontra tersebut, langkah Isomorphic Labs memperlihatkan arah baru pemanfaatan AI yang semakin dekat dengan aspek fundamental kehidupan manusia, yakni kesehatan, dengan harapan dapat mempercepat lahirnya pengobatan untuk penyakit-penyakit serius.