BERITA TERKINI
ITS Raih Pendanaan Riset Sawit Lebih dari Rp10 Miliar untuk Kembangkan Lima Teknologi Strategis

ITS Raih Pendanaan Riset Sawit Lebih dari Rp10 Miliar untuk Kembangkan Lima Teknologi Strategis

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperoleh pendanaan riset inovasi sawit senilai lebih dari Rp10 miliar dalam ajang Grant Riset Sawit (GRS) 2025 yang diselenggarakan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit. Dana tersebut akan digunakan untuk mengembangkan lima teknologi strategis yang ditujukan mendorong transformasi industri kelapa sawit Indonesia agar lebih modern dan berkelanjutan.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Gerobak Crawler Bertenaga Listrik DC dari tim Dr Lila Yuwana (Departemen Fisika). Teknologi ini dirancang untuk membantu pengangkutan tandan buah segar (TBS) di medan ekstrem perkebunan rakyat melalui sistem roda rantai dan tenaga listrik, dengan tujuan meningkatkan produktivitas sekaligus menekan emisi karbon. Lila menyatakan, alat tersebut diharapkan dapat mengurangi beban kerja fisik petani dan menekan emisi di sektor perkebunan. “Harapannya, produktivitas Perkebunan sawit bisa lebih meningkat tanpa mengorbankan aspek lingkungan nantinya,” ujarnya.

Inovasi lain datang dari Moch Solichin PhD (Departemen Teknik Mesin) melalui penerapan Digital Twin multifungsi untuk pemantauan kematangan buah sawit dan kinerja mesin secara real-time. Teknologi ini ditujukan untuk mendukung deteksi dini kondisi operasional sehingga efisiensi dan keandalan proses produksi dapat ditingkatkan. “Dengan Digital Twin, pelaku industri dapat mengambil keputusan berbasis data aktual, baik untuk menentukan waktu panen maupun perawatan mesin, sehingga efisiensi dan keandalan produksi dapat ditingkatkan,” kata Solichin.

Di bidang pemetaan dan prediksi produksi, Hepi Hapsari PhD (Departemen Teknik Geomatika) bersama Dr Kelly Rossa (Departemen Teknik Informatika) mengembangkan sistem estimasi produksi kelapa sawit berbasis drone multispektral, sensor Volatile Organic Compound (VOC), dan citra satelit. Teknologi tersebut diklaim mampu memetakan kesehatan tanaman serta memperkirakan potensi panen secara akurat dari udara, sekaligus mendukung penguatan ketahanan pangan nasional. “Teknologi ini memungkinkan prediksi produksi yang lebih presisi dari udara, sehingga dapat membantu perencanaan panen dan mendukung ketahanan pangan nasional,” ujar Hepi.

Untuk aspek keselamatan kerja, ITS memperkenalkan ARECAVERSE, inovasi safety metaverse yang dipimpin Dr Adithya Sudiarno (Departemen Teknik Sistem dan Industri). Platform ini dirancang sebagai sarana pelatihan keselamatan kerja berbasis virtual guna menekan angka kecelakaan kerja di perkebunan sawit dan mendukung pemenuhan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Melalui simulasi virtual, pekerja dapat berlatih menghadapi risiko tanpa terpapar bahaya secara langsung. “Ini adalah langkah strategis untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan berkelanjutan,” tutur Adithya.

Sementara pada ranah tata kelola dan lingkungan, Endah Rokhmati PhD (Departemen Matematika) mengembangkan Sistem Informasi Manajemen Sawit berbasis data untuk perhitungan kredit karbon dan premi asuransi. Sistem ini ditujukan meningkatkan transparansi, akuntabilitas, serta daya saing industri sawit Indonesia di tingkat global. “Sistem ini diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan sawit, sekaligus membuka peluang insentif ekonomi melalui kredit karbon,” jelas Endah.

Direktur Utama BPDP Sawit Eddy Abdurrachman mengapresiasi capaian ITS yang dinilai mampu membawa riset hingga tahap penerapan industri. Ia menyebut tiga peneliti ITS masuk dalam daftar 20 riset tahap pilot/komersial, yang menunjukkan kesiapan inovasi untuk diimplementasikan di sektor industri sawit nasional. Tiga inovasi yang disebut siap komersial meliputi Gerobak Elektrik dari Dr Lila Yuwana, Egrek Digital dari Dr Erwin Widodo, dan Drone Penyerbukan dari Prof Nur Cahyadi.

Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS Fadlilatul Taufany PhD mengatakan, capaian pendanaan tersebut tidak lepas dari strategi pendampingan intensif dan fokus pada hilirisasi riset. “Kami memastikan sejak awal bahwa riset tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap dikomersialisasikan dan memberikan dampak nyata bagi industri dan masyarakat,” tegasnya.

ITS juga menyatakan komitmen untuk terus menghadirkan inovasi berdampak yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), termasuk SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).