Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menjalin kolaborasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memperkuat ekosistem riset, inovasi, dan hilirisasi di bidang obat, pangan, dan teknologi kesehatan nasional.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kemdiktisaintek dan BPOM yang dilakukan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 BPOM, Rabu (28/1).
Brian menyatakan, kebutuhan kemandirian di bidang obat dan industri makanan yang terus berkembang menuntut inovasi dan kreativitas agar Indonesia dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Ia menilai kolaborasi ini sebagai langkah strategis yang sejalan dengan kebijakan Diktisaintek Berdampak, yang menekankan manfaat nyata riset bagi industri dan masyarakat.
Melalui MoU tersebut, kedua lembaga memperkuat kolaborasi, antara lain lewat program Academia-Business-Government (ABG). Salah satu bentuknya adalah pemanfaatan laboratorium serta fasilitas pengujian milik BPOM untuk mendukung riset akademisi.
Menurut Brian, kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat proses penelitian, validasi, dan pengembangan produk inovatif agar memenuhi standar mutu, keamanan, dan regulasi sejak tahap awal riset. Pemerintah juga disebut terus memperkuat dukungan pendanaan riset nasional, termasuk peningkatan anggaran riset.
Pemanfaatan fasilitas BPOM oleh akademisi diharapkan meningkatkan kualitas riset dan publikasi ilmiah, sekaligus mempercepat lahirnya inovasi yang siap diadopsi industri. Brian juga mengajak pelaku industri terlibat aktif karena dinilai memiliki peran penting sebagai penggerak hilirisasi agar hasil riset perguruan tinggi dapat berkembang menjadi produk unggulan nasional yang berdaya saing.
Ia menyoroti potensi Indonesia dengan lebih dari 4.000 perguruan tinggi, sekitar 300 ribu dosen, dan lebih dari 12 ribu profesor. Brian menegaskan pemerintah siap mendukung dari sisi peneliti dan anggaran, seraya meminta industri membantu mengarahkan kebutuhan produk yang dapat mendorong kemandirian.
Sementara itu, Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan bahwa kerja sama yang bertepatan dengan momentum 25 tahun BPOM diharapkan menjadi tonggak transformasi untuk berkontribusi bagi bangsa, termasuk dalam pengembangan sains, teknologi, dan obat-obat inovatif.
Sinergi Kemdiktisaintek dan BPOM diharapkan memberi dampak nyata bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045. Kedua pihak menyatakan komitmen untuk mengawal implementasi MoU secara berkelanjutan agar hasil riset nasional tidak hanya unggul secara ilmiah, tetapi juga siap dihilirisasi serta dimanfaatkan industri dan masyarakat luas.