Komisi X DPR RI mengapresiasi kinerja Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sepanjang 2025 di bawah kepemimpinan Kepala BRIN Arif Satria, sekaligus menyoroti rencana kerja strategis lembaga tersebut untuk 2026. Apresiasi itu disampaikan sebagai dorongan agar riset dan inovasi semakin memberi dampak langsung bagi masyarakat.
Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudin menilai pemanfaatan riset dan inovasi penting untuk menjawab persoalan yang membutuhkan solusi cepat dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga menyinggung keterlibatan BRIN dalam penanganan bencana di Sumatera dan Aceh melalui Task Force Tim Cepat Tanggap Bencana.
Menurut Hetifah, penguatan riset dan inovasi perlu terus didekatkan dengan kebutuhan publik, termasuk inovasi yang lahir dari masyarakat. Ia menambahkan, keterlibatan BRIN dalam Task Force Tim Cepat Tanggap masih perlu diperkuat, mengingat kebutuhan solusi inovatif untuk mempercepat penanganan di daerah terdampak bencana.
Apresiasi Komisi X disebut sejalan dengan upaya BRIN memperkuat ekosistem riset dan inovasi. Di antaranya melalui Rumah Inovasi Indonesia sebagai wadah kolaborasi lintas pemangku kepentingan, serta Rumah Inovasi Daerah yang mendorong pemanfaatan hasil riset sesuai potensi wilayah agar inovasi tidak berhenti di laboratorium dan dapat diterapkan di masyarakat.
BRIN juga menjalankan Agenda Riset dan Inovasi Nasional sebagai pedoman bersama dalam perencanaan dan pelaksanaan riset. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat sinergi dengan kementerian dan lembaga, perguruan tinggi, industri, hingga pemerintah daerah.
Selain itu, BRIN memperluas jejaring melalui program BRIN Goes to Stakeholders yang mencakup BRIN Goes to Campus, BRIN Goes to School, dan BRIN Goes to Industry. Inisiatif ini ditujukan untuk meningkatkan literasi serta mendorong pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai sektor.
Di sisi lain, Komisi X juga menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh sebagai dasar perbaikan kebijakan dan penguatan kelembagaan agar lebih terarah, adaptif, inklusif, serta berdampak nyata pada pembangunan nasional dan kesejahteraan masyarakat.
Anggota Komisi X dari Fraksi Demokrat, Sabam Sinaga, menilai riset dan inovasi merupakan tantangan besar. Ia berharap Arif Satria dapat menjadikan BRIN sebagai inkubator riset dan inovasi baru. Sabam juga mengapresiasi kolaborasi BRIN dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang telah menyusun Peta Jalan Riset untuk digunakan bersama, berbasis pada delapan agenda riset.
Menurut Sabam, penyelarasan tersebut penting untuk mencegah tumpang tindih penelitian dan pembiayaan. Ia menekankan efektivitas penggunaan anggaran penelitian agar dana publik yang dialokasikan benar-benar tepat sasaran.
Menanggapi berbagai masukan dalam rapat dengar pendapat, Arif Satria menyampaikan apresiasi atas pandangan, kritik, dan saran yang disampaikan pimpinan serta anggota Komisi X. Ia menyebut masukan itu konstruktif dan menegaskan pentingnya ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi memberi dampak bagi kesejahteraan masyarakat, termasuk menjaga aspek ekologi dan sosial.
Arif juga menyampaikan perkembangan terkait Task Force Tim Cepat Tanggap yang menggelar rapat mengenai penanganan longsor di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. BRIN disebut akan mengirim teknologi berupa drone dan Arsinum, sebagaimana yang telah diterapkan sebelumnya di lokasi bencana di Sumatera dan Aceh.
Untuk agenda kebencanaan 2026, BRIN menyiapkan early warning system untuk erosi dan banjir. Rencana tersebut mencakup pemetaan nasional daerah rawan serta pemasangan alat di sejumlah titik untuk mendukung langkah antisipasi.