Mahasiswa Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengembangkan inovasi penyerap air berbasis limbah kulit jagung yang diberi nama Hydrozea. Produk ini dirancang sebagai alternatif bahan penyerap kelembapan yang lebih ramah lingkungan.
Tim pengembang terdiri dari Shyerly Fauziah Nur Rizki, Siti Nurazilla, Rajiv Tamim Wicaksana, Mia Oktafia, dan Rafeyfa Nadira Zakauha. Mereka memilih kulit jagung (zea mays) sebagai bahan utama karena kandungan selulosanya tinggi dan ketersediaannya melimpah sebagai limbah pertanian. Selain penambahan senyawa kimia lain, Hydrozea juga ditambahkan essential oil chamomile yang disebut berfungsi sebagai penyerap kelembapan alami sekaligus aromaterapi antibakteri.
Shyerly menjelaskan, kelembapan udara yang tinggi di dalam ruangan dapat memicu bau tidak sedap, jamur, serta pertumbuhan mikroorganisme berbahaya. Kondisi tersebut menimbulkan ketidaknyamanan dan berpotensi berdampak pada kesehatan pernapasan.
Menurutnya, solusi konvensional kerap menggunakan silika gel sintetis yang efektif menyerap kelembapan. Namun, bahan itu dinilai kurang ramah lingkungan karena tidak dapat terurai secara hayati dan berpotensi menghasilkan residu kimia berbahaya jika terpapar dalam jangka panjang. Karena itu, tim menilai diperlukan inovasi penyerap kelembapan berbahan dasar alami yang aman, biodegradable, dan sejalan dengan prinsip green technology.
Hydrozea dikembangkan melalui penelitian dan eksperimen di laboratorium Teknik Kimia UMS selama enam minggu. Prosesnya diawali dengan isolasi selulosa dari kulit jagung yang berasal dari petani di wilayah Sukoharjo, kemudian dilanjutkan dengan tahap sintesis hidrogel.
Siti menyebut penambahan essential oil chamomile memberikan fungsi tambahan sebagai agen antiinflamasi, antibakteri, dan aromaterapi yang menenangkan tanpa mengganggu struktur polimer. Ia juga menyampaikan, hidrogel dapat dikeringkan kembali setelah jenuh air menggunakan sinar matahari atau oven bersuhu rendah, sehingga menunjukkan potensi penggunaan ulang yang baik dan ramah lingkungan.
Menurut Siti, Hydrozea yang dihasilkan memiliki komposisi kimia yang sesuai, kestabilan struktural yang tinggi, serta kemampuan penyerapan kelembapan yang efektif. Dengan karakteristik tersebut, produk ini dinilai berpotensi menjadi kandidat material alami penyerap kelembapan ramah lingkungan.