Starlink adalah layanan internet broadband berbasis konstelasi satelit orbit rendah (Low Earth Orbit/LEO) yang dioperasikan SpaceX. Layanan ini dalam beberapa tahun terakhir berkembang menjadi bisnis utama perusahaan, setelah dilaporkan membukukan laba operasional sebesar US$8 miliar pada 2025. Perubahan kinerja tersebut terjadi setelah Starlink sebelumnya mengalami kerugian besar pada 2022–2023.
Hingga Mei 2026, Starlink mengoperasikan lebih dari 7.000 satelit aktif di ketinggian sekitar 340–560 kilometer dari permukaan Bumi. Jaringan ini ditujukan untuk menghadirkan akses internet ke berbagai wilayah, termasuk area terpencil, dengan klaim kecepatan 100–300 Mbps dan latensi 20–40 milidetik.
Salah satu pembeda Starlink dibanding layanan internet satelit konvensional adalah ketinggian orbit satelitnya. Satelit internet tradisional umumnya berada pada orbit geostasioner sekitar 35.786 kilometer, yang berimplikasi pada latensi lebih tinggi hingga 600 milidetik atau lebih. Dengan orbit yang lebih rendah, Starlink disebut mampu menghadirkan latensi yang lebih mendekati koneksi kabel, sehingga dinilai lebih cocok untuk kebutuhan aplikasi internet modern.
Dari sisi model bisnis, Starlink mengandalkan penjualan perangkat dan biaya berlangganan. Perangkat antena pengguna (Dishy) disebut berada di kisaran US$499 per unit, sementara biaya langganan bulanan bervariasi—sekitar US$120 per bulan untuk pelanggan perumahan, hingga US$5.000 per bulan untuk layanan Starlink Aviation. Estimasi pembagian pendapatan pada 2025 menyebut sekitar 60% berasal dari segmen perumahan, 25% dari bisnis, dan 15% dari pemerintah/militer.
Perjalanan finansial Starlink digambarkan sebagai transformasi bertahap. Setelah peluncuran 60 satelit pertama pada 2019 yang masih bersifat eksperimental, layanan ini memasuki tahap uji coba beta pada 2020 dengan sekitar 10.000 pelanggan awal di Amerika Serikat dan Kanada. Pada 2021, Starlink mulai beroperasi secara komersial penuh dan mencapai sekitar 250.000 pelanggan di akhir tahun, meski disebut masih membutuhkan investasi besar untuk membangun infrastruktur.
Pada 2022, jumlah pelanggan disebut mencapai 1 juta, diikuti kontrak militer terkait Ukraina, namun kinerja keuangan masih dilaporkan merugi US$3–4 miliar akibat biaya pembangunan yang besar. Tahun 2023, pelanggan meningkat menjadi 2 juta dan Starlink mulai mendekati titik impas, meski masih merugi secara operasional. Pada 2024, pelanggan mencapai 3 juta dan Starlink dilaporkan mencatatkan profit operasional positif sepanjang tahun. Pada 2025, pelanggan disebut melampaui 4 juta di lebih dari 100 negara, dengan laba operasional US$8 miliar.
Sejumlah faktor dinilai membuat profitabilitas Starlink sulit ditandingi kompetitor. Salah satunya adalah kemampuan SpaceX meluncurkan satelitnya sendiri menggunakan Falcon 9, sehingga biaya peluncuran tidak bergantung pada penyedia eksternal. Selain itu, skala konstelasi yang sudah melampaui 7.000 satelit disebut memberi keunggulan kapasitas layanan dan latensi dibanding pesaing yang masih membangun jaringan. Starlink juga disebut memiliki teknologi antena phased array yang dipatenkan, serta kontrak pemerintah multi-tahun, termasuk dengan militer Amerika Serikat dan Departemen Pertahanan (DoD).
Meski demikian, Starlink tetap menghadapi sejumlah risiko. Kompetisi dari Amazon Kuiper menjadi salah satu perhatian, mengingat Amazon berencana meluncurkan 3.236 satelit. Jika Kuiper berhasil, Starlink berpotensi menghadapi tekanan harga dan pangsa pasar. Risiko lain adalah meningkatnya perdebatan soal sampah antariksa (space debris) karena banyaknya satelit di orbit, serta risiko regulasi terkait lisensi spektrum radio di berbagai negara yang dapat dibatasi atau dicabut. Faktor geopolitik juga menjadi tantangan, karena beberapa negara seperti Cina dan Rusia disebut membatasi atau melarang Starlink, yang dapat mengurangi potensi pasar global.
Di Indonesia, Starlink disebut sudah tersedia per 2026 dengan harga Rp750.000 per bulan untuk paket perumahan, sementara paket bisnis lebih mahal. Izin operasional Starlink di Indonesia juga disebut telah diberikan oleh Kominfo.
Dalam konteks valuasi dan rencana pasar modal, sejumlah analis memandang Starlink sebagai aset yang dapat berdiri sendiri, bahkan dinilai lebih bernilai dibanding bisnis peluncuran jika dipisahkan. Estimasi valuasi jika Starlink dipisahkan disebut berada di kisaran US$400–700 miliar. Namun, rincian finansial Starlink dan SpaceX secara menyeluruh belum dipublikasikan secara resmi karena SpaceX masih berstatus perusahaan privat. Angka laba operasional US$8 miliar pada 2025 disebut bersumber dari laporan media dan estimasi industri, dengan detail yang diharapkan baru akan lebih jelas jika dokumen S-1 prospektus dirilis.