Sejumlah narasumber menekankan pentingnya memperkuat perlindungan data pribadi dan membangun etika berinteraksi di ruang digital di tengah meningkatnya risiko kejahatan siber. Pesan tersebut mengemuka dalam diskusi daring pada Selasa (26/7/2022), yang membahas perlunya kewaspadaan dalam menggunakan layanan dan fitur digital.
Perwakilan ICTWatch, Habib Almaskaty, mengatakan upaya proteksi dapat dilakukan dengan menerapkan sistem keamanan digital, seperti penggunaan kata sandi, PIN, one time password (OTP), dan mekanisme keamanan lain. Menurutnya, langkah-langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi potensi kejahatan digital, termasuk pencurian data pribadi.
Habib juga mengingatkan bahwa tidak ada sistem yang sepenuhnya aman di internet. Karena itu, ia menilai pengguna perlu memilih langkah pengamanan meski membuat proses menjadi sedikit lebih rumit, demi mengurangi kerentanan.
Assistant Program Manager ECPAT Indonesia, Oviani Fathul Janah, menyoroti pentingnya menanamkan nilai-nilai Pancasila di ruang digital. Ia menyebut nilai seperti saling menghormati perbedaan, kesetaraan, harmoni, dan sikap demokratis perlu hadir dalam interaksi daring.
Oviani menambahkan, semangat gotong royong perlu dijunjung dalam berinteraksi di dunia digital. Ia juga mendorong warga digital untuk berpikir kritis serta meminimalkan tindakan seperti unfollow, unfriend, dan block agar tidak terjebak dalam echo chamber dan filter bubble, sekaligus membuka ruang kolaborasi.
Pegiat seni budaya sekaligus produser musik, Madha Soentoro, menilai era media baru membuat masyarakat dapat merespons langsung informasi yang dipublikasikan di media sosial. Dalam situasi ini, ia menekankan pentingnya produsen informasi maupun publik untuk saling menjaga diri saat merespons, agar tidak memicu perdebatan panjang yang kontraproduktif.
Madha juga mengingatkan soal etika bermedia sosial, antara lain menghargai perbedaan, menggunakan tutur bahasa yang baik dan sopan, serta memanfaatkan fitur-fitur digital secara optimal.
Di sisi lain, riset Populix turut menggambarkan tingginya penggunaan aplikasi layanan keuangan di Indonesia. Populix meluncurkan Survei Consumer Preference Towards Banking and e-Wallet Apps yang dilakukan secara online melalui aplikasinya terhadap 1.000 responden berusia 18–55 tahun. Hasil survei menyebut 64 persen responden memiliki aplikasi layanan keuangan di ponsel.
Dari kelompok tersebut, 91 persen responden memiliki aplikasi mobile banking, 84 persen memiliki e-wallet, dan 33 persen memiliki aplikasi bank digital. Co-Founder & CEO Populix Timothy Astandu menyatakan akselerasi transformasi digital beberapa tahun terakhir berdampak pada berbagai industri, termasuk perbankan dan keuangan, seiring bertambahnya pilihan aplikasi untuk menjawab kebutuhan pengguna.
Timothy menyebut sejumlah alasan utama responden memilih aplikasi mobile banking dan digital banking adalah kepraktisan, penghematan waktu, serta kemudahan penggunaan. Dalam kategori digital banking, survei Populix mencatat Bank Jago menjadi pilihan nomor satu dengan persentase 46 persen, disusul Neobank atau Bank Neo Commerce (BNC) 40 persen, dan Jenius dari Bank BTPN 32 persen.
Posisi berikutnya ditempati SeaBank dengan 27 persen, sementara Allo Bank berada di peringkat kedelapan dengan 7 persen. Survei tersebut juga mencantumkan catatan bahwa Bank Jago merilis aplikasi pada April 2021 dengan jumlah nasabah yang menginstal Jago App lebih dari 3 juta orang per akhir Kuartal II-2022. Jenius diluncurkan pada 2016 dan disebut telah memiliki lebih dari 5 juta nasabah, sedangkan BNC dirilis pada 2021 dengan jumlah unduhan aplikasi lebih dari 13 juta.
Ekonom CORE Indonesia, Piter Abdullah, menilai survei ini mengonfirmasi bahwa kemampuan bank digital menghadirkan fitur yang inovatif, unik, dan relevan menjadi kunci untuk meyakinkan nasabah bertransaksi melalui aplikasi. Ia juga menyoroti perbedaan antara usia layanan, jumlah pemasang aplikasi, dan preferensi pengguna, dengan menyebut Bank Jago paling dominan dari sisi preferensi meski Jenius lebih lama hadir dan BNC memiliki jumlah pemasang aplikasi lebih besar.
Piter menambahkan, Bank Jago dinilai lebih dulu membangun ekosistem digitalnya, yang menurutnya menjadi salah satu faktor dalam persaingan bank digital.