Di era digital, berbagai aktivitas masyarakat semakin terhubung dengan internet, mulai dari penggunaan media sosial, belanja daring, hingga transaksi perbankan. Namun, kemudahan tersebut juga dibarengi risiko kebocoran data pribadi yang kian mengkhawatirkan.
Hal itu disampaikan Mochammad Sebbhie Tyasworo, yang akrab disapa Zebhi, Pengolah Data Keamanan Siber dan Sandi pada Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian Kabupaten Ngawi. Zebhi menyampaikan hal tersebut saat menjadi narasumber dalam acara SPADA melalui Zoom bersama Pro 2 RRI Madiun.
Menurut Zebhi, ada tiga aspek utama yang perlu diamankan dalam aktivitas digital, yakni akun, identitas pribadi, dan finansial. Ia menekankan pentingnya mengamankan email utama sebagai langkah awal, karena email sering digunakan untuk mendaftar berbagai layanan, termasuk layanan perbankan dan layanan pemerintah.
“Email utama harus benar-benar kita kuasai. Jangan sampai dibuatkan orang lain dan password-nya diketahui pihak lain,” ujarnya.
Selain email, Zebhi menyarankan pengguna menerapkan kata sandi yang kuat dan berbeda untuk setiap akun, mengaktifkan verifikasi dua langkah, serta tidak sembarangan membagikan data identitas seperti KTP, KK, alamat rumah, hingga bukti transaksi keuangan.
Ia juga menekankan perlunya memperkuat keamanan saat masuk ke akun. “Password dan caranya login itu juga perlu diamankan. Password-nya harus cukup baik ya. Cukup kuat. Jadi kombinasi angka, huruf, symbol, huruf besar, huruf kecil,” jelas Zebhi.
Zebhi turut mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap penipuan yang mengatasnamakan instansi resmi, terutama yang meminta kode OTP atau data pribadi. Jika muncul tanda mencurigakan, seperti notifikasi login dari perangkat asing atau transaksi yang tidak dikenal, masyarakat diminta segera mengamankan akun dan melapor ke instansi terkait.