Pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran dan pengelolaan informasi terus berkembang. Dalam konteks itu, aplikasi Sistem Akses Elektronik Deposit Aman dan Praktis (SAKEDAP) diperkenalkan sebagai sarana untuk mendukung literasi digital sekaligus menata kewajiban serah simpan karya cetak dan karya rekam nasional.
Pengenalan SAKEDAP disampaikan dalam gelar wicara yang membahas urgensi literasi digital untuk menunjang pembelajaran yang efektif. Kegiatan tersebut digelar di Gedung Layanan Perpustakaan Nasional dan diikuti berbagai kalangan, mulai dari pengelola perpustakaan, pendidik, hingga masyarakat umum.
Kepala Perpustakaan Nasional E. Aminudin Aziz menilai derasnya arus informasi digital berdampak besar terhadap cara masyarakat belajar dan mencari referensi. Ia menekankan literasi digital menjadi faktor penting agar masyarakat mampu menggunakan informasi secara tepat.
“Informasi digital bisa sangat membantu, tetapi tanpa literasi yang baik justru dapat menimbulkan kebingungan. Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk memahami dan memilah informasi,” kata Aminudin.
Ia menjelaskan, layanan perpustakaan kini tidak lagi terbatas pada koleksi fisik. Berbagai sumber digital telah tersedia dan dapat diakses secara daring untuk menunjang kebutuhan informasi, baik untuk pendidikan, riset, maupun pengembangan pengetahuan.
Terkait SAKEDAP, Aminudin menyampaikan aplikasi ini dikembangkan untuk menjawab persoalan ketidaksesuaian data antara karya yang diterbitkan dan karya yang diserahkan sebagai deposit. Selama ini, jumlah publikasi yang memiliki ISBN disebut belum sepenuhnya diikuti dengan pemenuhan kewajiban serah simpan.
“Melalui SAKEDAP, proses serah simpan diharapkan menjadi lebih mudah dan terintegrasi. Ini penting agar karya-karya yang dihasilkan dapat tercatat dan terjaga sebagai bagian dari pengetahuan nasional,” ujarnya.
Selain mempermudah proses teknis, SAKEDAP juga disebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem bibliografi nasional agar pengelolaan data terbitan dapat dilakukan lebih tertib dan berkelanjutan. Perpustakaan Nasional juga terus melakukan peningkatan layanan, termasuk percepatan penerbitan ISBN serta sosialisasi kepada penerbit dan pelaku industri kreatif mengenai pentingnya memenuhi kewajiban serah simpan karya.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Suharyanto memaparkan data pemanfaatan layanan perpustakaan sepanjang 2025 yang mencapai lebih dari 17,6 juta pengunjung. Menurutnya, mayoritas masyarakat mengakses layanan secara daring, dengan layanan yang banyak digunakan antara lain Indonesia OneSearch, BintangPusnas Edu, OPAC, situs web resmi, dan e-Resources.
“Layanan digital dan koleksi cetak akan terus dikembangkan secara seimbang untuk menjawab kebutuhan informasi masyarakat yang semakin dinamis,” kata Suharyanto.