BPOM menjalin kerja sama strategis dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) untuk memperkuat hilirisasi penelitian di bidang kesehatan. Kolaborasi ini diarahkan agar hasil riset dari perguruan tinggi tidak berhenti pada publikasi ilmiah, melainkan dapat bertransformasi menjadi produk yang siap diproduksi massal dan dimanfaatkan masyarakat, seperti obat, vaksin, atau suplemen kesehatan.
Hilirisasi dimaknai sebagai proses mengubah temuan laboratorium menjadi produk nyata yang memiliki jalur jelas menuju industri dan pasar. Melalui percepatan transisi dari riset ke produk komersial, BPOM menargetkan penguatan kemandirian obat nasional sekaligus pengurangan ketergantungan pada bahan baku obat impor yang selama ini dinilai membebani neraca perdagangan.
Kepala BPOM Taruna Ikrar, dalam keterangan di Jakarta, Rabu (28/1), menyatakan strategi tersebut dijalankan melalui pendekatan Akademia-Bisnis-Pemerintahan (ABG). Dalam skema ini, perguruan tinggi berperan sebagai pusat riset dan inovasi, industri sebagai pemodal dan pemasar, sementara pemerintah menjalankan fungsi regulator yang menyediakan payung hukum dan kemudahan perizinan. Menurut Taruna, sinergi ini diharapkan membuat riset lebih relevan dengan kebutuhan pasar serta tetap berada dalam koridor regulasi yang menjamin keamanan produk.
Taruna juga menyinggung capaian publikasi ilmiah kesehatan Indonesia yang disebut baru mencapai 11 ribu, jauh di bawah Singapura yang menembus 500 ribu. Dengan sekitar 4.000 universitas, BPOM berharap publikasi ilmiah dapat meningkat hingga 100 ribu dalam waktu singkat. Ia juga menegaskan peran BPOM dalam menciptakan regulasi yang menjamin keamanan sekaligus mempermudah proses sertifikasi bagi 4,2 juta pelaku industri, serta menyebut kontribusi BPOM sekitar 400 miliar dolar AS atau hampir 40 persen dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
Di sisi lain, Menteri Diktisaintek Brian Yuliarto menyambut kolaborasi tersebut sebagai langkah penting untuk mewujudkan kemandirian obat nasional. Ia menilai Indonesia memiliki modal sumber daya intelektual yang besar, antara lain 126 perguruan tinggi negeri, 300 ribu dosen, dan 12 ribu profesor. Brian juga menyampaikan bahwa Presiden berkomitmen menaikkan anggaran riset sebesar Rp4 triliun, dengan sektor obat-obatan menjadi salah satu prioritas.
Kerja sama BPOM dan Kementerian Diktisaintek ini dikaitkan dengan komitmen peringatan HUT ke-25 BPOM, termasuk dorongan terhadap target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen. Melalui penguatan hilirisasi riset kesehatan, pemerintah berharap inovasi farmasi dapat lebih cepat hadir sebagai produk yang aman, bermanfaat, dan bernilai ekonomi bagi Indonesia.