Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat perannya dalam mendukung kemandirian industri pertahanan nasional melalui pengembangan riset kendaraan tempur tank ringan. Riset ini dikawal secara komprehensif hingga tahap kesiapan dan sertifikasi, serta dilaksanakan melalui skema kolaborasi dengan mitra industri.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Transportasi BRIN, Lukman Shalahuddin, mengatakan riset kendaraan tempur tank ringan masuk dalam prioritas riset strategis industri pertahanan. “BRIN mengawal pengembangan kendaraan ini hingga mencapai tahapan sertifikasi. Masih terdapat sejumlah tantangan teknis, sehingga kami memastikan kendaraan benar-benar siap sebelum dinyatakan ready,” ujar Lukman dalam keterangan tertulis, Jumat, 6 Februari 2026.
Menurut Lukman, tahap awal riset difokuskan pada optimasi kinerja kendaraan. Fokus tersebut meliputi desain dan struktur bodi, pemilihan material, serta sistem penggerak. Pengembangan dilakukan untuk memastikan kendaraan mampu beroperasi secara andal dalam berbagai kondisi ekstrem.
Ia menambahkan, cakupan riset ke depan akan diperluas tidak hanya pada kendaraan tempur tank ringan, tetapi juga mencakup pengembangan berbagai varian kendaraan taktis lainnya. Setelah fase optimasi tank ringan, pengembangan direncanakan berlanjut pada varian seperti Armoured Personnel Carrier (APC) yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional militer, termasuk evakuasi dan dukungan medis.
Skema kolaborasi riset ini dirancang melibatkan tiga pihak, yakni BRIN, TNI Angkatan Darat, dan PT Sentra Surya Ekajaya (SSE). Lukman menyebut kerja sama antara BRIN dan PT SSE telah berjalan, sementara penjajakan kolaborasi dengan TNI AD masih berlangsung dan ditargetkan terealisasi pada tahun ini.
Sementara itu, Project Manager PT SSE, Marzuki, menyampaikan apresiasi atas peran BRIN sebagai mitra riset strategis. Menurutnya, BRIN memberikan dukungan keilmuan yang signifikan, mulai dari pengembangan mesin hingga struktur kendaraan.