Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meluncurkan skema pendanaan riset kolaborasi internasional berbasis co-funding pada Rabu, 11 Februari 2026. Melalui skema ini, peneliti dari berbagai instansi di Indonesia dapat mengajukan proposal pendanaan melalui BRIN Danapedia pada Skema Pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kolaborasi.
Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, Prof. Dr. Eng. Agus Haryono, menegaskan program tersebut tidak hanya ditujukan bagi peneliti internal BRIN. Menurutnya, kesempatan terbuka bagi perguruan tinggi maupun pihak lain yang memiliki potensi memadai untuk menjalankan riset. “Bahwa seluruh pendanaan kolaborasi ini terbuka untuk siapapun, tidak hanya untuk riset BRIN, tetapi juga perguruan tinggi. Kami tidak melihat levelnya, tapi yang penting potensinya cukup memadai untuk melakukan riset itu,” kata Agus dalam acara Media Lounge Discussion (Melodi) di Gedung BJ Habibie, BRIN, Jakarta Pusat, Rabu (11/2/2026).
Agus juga menyebut lembaga independen memiliki peluang yang sama untuk mengusulkan proposal. “Bahkan lembaga independen pun kalau mengusulkan proposal, mereka juga boleh menyusulkan. Jadi tidak khusus untuk BRIN, tapi untuk semua pelaku riset dan inovasi,” ujarnya.
Skema RIIM Kolaborasi dirancang untuk menyediakan pendanaan bersama dengan lembaga pendanaan riset antarnegara. Sejumlah mitra internasional BRIN yang terlibat antara lain Japan Science and Technology Agency (JST), Malaysian Industry-Government Group for High Technology (MIGHT), serta Ministry of Science and Technology (MOST) China.
BRIN mencatat, program ini sebelumnya telah melibatkan 84 instansi dan perguruan tinggi dalam negeri sebagai penerima pendanaan. Kolaborasi tersebut mencakup 119 instansi dan lembaga riset perguruan tinggi luar negeri dalam 130 kegiatan riset yang sedang berjalan. Fokus riset diarahkan pada bidang strategis, seperti energi, biologi struktur, pertanian, dan biodiversitas Indonesia, sesuai kesepakatan dengan lembaga mitra.
Sejumlah penerima pendanaan menyampaikan pengalaman mereka dalam program tersebut. Dr. Muhammad Zaki Almuzakki, Dosen Program Studi Ilmu Komputer Universitas Pertamina, menilai kompetisi pendanaan di BRIN memberi peluang yang setara bagi peneliti muda. “Saya jujur saja bersyukur, karena kita untuk ikut kompetisi pendanaan di BRIN ini sangat-sangat fair, tidak harus, tidak melihat melihat latar belakang yang harus sudah profesor. Saya baru lulus S3 2 tahun yang lalu, tapi ternyata punya kesempatan yang sama, bisa bertanding di level yang sama dengan peneliti lain, dan ini sangat menyenangkan,” ucapnya.
Zaki dan tim, melalui pendanaan RIIM Kolaborasi–MOST China, mengembangkan algoritma untuk meminimalisir kecelakaan pada kendaraan nirawak. Luaran riset ini diharapkan dapat diterapkan pada bidang logistik di Indonesia untuk meningkatkan efisiensi, sekaligus mendukung transisi menuju energi hijau dalam peta jalan 10 tahun ke depan.
Dari sektor pertanian, Dr. Yantyati Widyastuti dari Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN memperoleh pendanaan RIIM Kolaborasi–MIGHT Malaysia. Ia menggagas pemanfaatan rumput gajah di Indonesia dan Malaysia, antara lain sebagai sumber energi pengganti bahan bakar fosil di Malaysia serta sebagai pelet pakan sapi di Indonesia yang mudah didistribusikan. “Kami akan berkolaborasi, berdiskusi, bagaimana memperbaiki pertumbuhan daripada masing-masing rumput gajah tadi, di tanah masing-masing, di negara masing-masing, dengan formula dari pupuk hayati masing-masing,” jelas Yantyati. “Kemudian setelah tumbuh bagus, kami mendapatkan atau panen, begitu, kami akan membuat pelet,” imbuhnya.
Di bidang kesehatan, Dr. Yudhi Nugraha, S.Si., M.Biomed, periset dari Organisasi Riset Kesehatan BRIN, menjalankan riset rekayasa enzim bioproduction dan polutan melalui pendanaan RIIM Kolaborasi–JST Jepang. Riset tersebut disebut sebagai kelanjutan dari proyek yang telah berjalan, dengan proposal yang menjabarkan kebutuhan perluasan penelitian.
Agus Haryono berharap skema kolaborasi internasional ini dapat meningkatkan jumlah periset Indonesia yang berkiprah di tingkat global, sekaligus memperkuat kontribusi riset bagi pembangunan nasional. “Untuk peningkatan kapasitas periset kita, dan juga untuk meningkatkan prestasi di bidang riset ini,” ujarnya.