BERITA TERKINI
Dispursip Kalteng Dorong Literasi Digital Lewat Aplikasi Perpustakaan Huma Betang

Dispursip Kalteng Dorong Literasi Digital Lewat Aplikasi Perpustakaan Huma Betang

Palangka Raya—Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispursip) Kalimantan Tengah terus mendorong transformasi literasi melalui aplikasi Huma Betang, sebuah platform perpustakaan digital yang memungkinkan masyarakat mengakses ribuan buku elektronik kapan saja dan di mana saja.

Pelaksana Tugas Kepala Bidang Layanan, Teknologi Informasi, dan Kerjasama Perpustakaan Dispursip Kalteng, Febrianto Budiman, menjelaskan aplikasi tersebut dapat diunduh бесплатно melalui Google Play Store untuk perangkat Android dan App Store untuk iOS.

Menurut Febrianto, layanan perpustakaan digital Dispursip Kalteng sebenarnya telah berjalan sejak 2012 dengan nama iKalteng. Pada awal 2026, sistem itu berevolusi dan berganti nama menjadi Huma Betang, yang disebut sejalan dengan semangat kebersamaan dan keterbukaan dalam filosofi masyarakat Dayak.

Aplikasi Huma Betang dirancang bebas iklan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih nyaman. Saat ini, platform tersebut menyediakan sekitar 2.800 judul buku digital dalam 113 klasifikasi, mulai dari pendidikan, budaya, hingga pengetahuan umum.

Dispursip Kalteng mencatat jumlah pengguna aplikasi pada 2025 mencapai 1.500 orang, dengan tren peningkatan setiap tahun meski belum signifikan. Pada tahun yang sama, tercatat 600 kali peminjaman buku digital dilakukan melalui aplikasi tersebut.

Pengguna dapat memilih buku di dalam aplikasi untuk dipinjam, dan sistem akan mengembalikan buku secara otomatis setelah masa pinjam tiga hari berakhir. Jika buku masih tersedia, pengguna dapat meminjam ulang tanpa hambatan.

Meski fitur dinilai sudah cukup lengkap, Febrianto menyebut masih banyak masyarakat yang belum mengetahui keberadaan perpustakaan digital ini. Selain itu, kebiasaan membaca buku cetak juga masih dominan karena faktor habituasi.

Ia berharap keberadaan Huma Betang semakin dikenal melalui peran influencer, pejabat, atau tokoh masyarakat yang ikut memperkenalkan aplikasi tersebut. Febrianto juga menilai sosialisasi melalui figur berpengaruh dapat efektif, mengingat sebagian masyarakat memiliki kecenderungan FOMO (Fear of Missing Out).

Seorang mahasiswa Program Studi Agribisnis Universitas Palangka Raya angkatan 2022, Lia Dwi Anggraini, mengaku kerap mengunjungi perpustakaan daerah untuk mengerjakan tugas kuliah dan skripsi, namun sebelumnya tidak mengetahui adanya layanan digital itu.

"Jujur, saya tidak tahu kalau ada sistem perpustakaan digital aplikasi Huma Betang milik Dispursip Kalteng ini, dan saya berharap aplikasi ini bisa terus di gaungkan, karena sangat mudah, praktis dan tidak perlu ribet kalau ingin mencari buku literasi apa saja untuk referensi belajar," kata Lia.

Dispursip Kalteng berharap penguatan layanan ini dapat meningkatkan minat baca digital sekaligus mendukung pencapaian target indeks gemar membaca di tingkat nasional bagi Kalimantan Tengah.