Tasikmalaya — Di tengah perkembangan teknologi digital yang kian kompleks, upaya membangun aplikasi kerap berfokus pada kecanggihan teknis. Namun, menurut dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Tasikmalaya, Bambang Kelana Simpony, banyak aplikasi modern justru gagal bukan karena teknologinya tertinggal, melainkan karena logika penggunaan yang terlalu rumit dan tidak intuitif.
Ia menilai prinsip dasar pengalaman pengguna (user experience/UX) dapat dipelajari dari hal sederhana, termasuk permainan tradisional congklak. “Banyak aplikasi modern gagal bukan karena teknologinya kurang canggih, melainkan karena logikanya terlalu rumit dan tidak intuitif. Congklak adalah contoh permainan dengan aturan sederhana, tetapi mampu membuat pemain betah berlama-lama,” ujarnya dalam rilis yang diterima Kamis (12/2).
Bambang menjelaskan, terdapat sejumlah prinsip dalam congklak yang relevan untuk pengembangan aplikasi digital masa kini, terutama terkait desain alur dan pengalaman pengguna.
Alur sederhana dan mudah diprediksi
Dalam congklak, pemain dapat cepat memahami konsekuensi ketika mengambil biji dari satu lubang dan menyebarkannya ke lubang berikutnya. Alur permainan jelas dan dapat diperkirakan. Prinsip ini, menurut Bambang, seharusnya tercermin dalam aplikasi agar pengguna memahami dampak dari setiap tindakan.
Ia mencontohkan, ketika pengguna menekan tombol tertentu, hasil yang muncul perlu sesuai ekspektasi. Alur yang membingungkan berisiko membuat pengguna kehilangan minat untuk melanjutkan interaksi.
Manajemen sumber daya yang transparan
Congklak juga menonjolkan visibilitas karena jumlah biji di setiap lubang dan rumah pemain terlihat jelas. Transparansi ini membuat pemain mengetahui kondisi permainan dan menumbuhkan rasa kontrol.
Dalam aplikasi digital, konsep serupa dapat diterapkan melalui tampilan informasi yang jelas, seperti jumlah poin, status proses, atau isi keranjang belanja. Ketika informasi penting tidak ditampilkan dengan baik, pengguna dapat merasa cemas dan ragu untuk melanjutkan.
Umpan balik langsung
Setiap langkah dalam congklak memberikan umpan balik instan, baik secara visual maupun suara. Perpindahan dan pertambahan biji menciptakan pengalaman yang memuaskan.
Bambang menilai kebutuhan serupa ada pada pengguna aplikasi: respons yang cepat dan jelas. Indikator sederhana seperti perubahan warna tombol, notifikasi berhasil, atau tanda centang dapat memperkuat rasa kendali dan kepuasan pengguna.
Pendekatan ini, kata Bambang, mulai diterapkan dalam proses pembelajaran di kampus. Mahasiswa tidak hanya diajarkan menulis kode yang berfungsi, tetapi juga diajak memahami bagaimana pengguna berinteraksi dan merasakan aplikasi yang mereka buat.
Melalui analogi congklak, konsep UX dan desain alur dinilai lebih mudah dipahami. Cara ini mendorong calon pengembang untuk berpikir sebagai perancang pengalaman, bukan sekadar pembuat sistem. Bambang menekankan, aplikasi yang baik bukan hanya unggul secara teknis, tetapi juga sederhana, intuitif, dan menyenangkan digunakan.