BERITA TERKINI
Internet Komdigi Dorong Usaha Rahma di Desa Jeruk Manis Menjangkau Wisatawan Mancanegara

Internet Komdigi Dorong Usaha Rahma di Desa Jeruk Manis Menjangkau Wisatawan Mancanegara

LOMBOK TIMUR — Program internet dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) di Desa Jeruk Manis, kawasan kaki Gunung Rinjani, disebut membawa perubahan bagi pelaku UMKM setempat. Rahma (51), pemilik homestay dan warung makan lokal, mengaku kini lebih mudah mempromosikan usahanya hingga menarik tamu mancanegara melalui kanal digital.

Rahma mengatakan, sebelum ada bantuan internet, promosi potensi wisata dan kuliner di desanya sulit dilakukan karena keterbatasan sinyal. Dengan akses internet yang tersedia, informasi tentang Desa Jeruk Manis kini dapat diakses wisatawan dari berbagai negara secara real-time.

“Internet ini sangat bermanfaat. Sekarang tamu-tamu turis bisa melihat saya dari dunia yang jauh, exactly all in the world (benar-benar ke seluruh dunia). Dulu sebelum ada internet, jangankan promosi, sinyal pun susah,” ujar Rahma saat ditemui di warungnya, Rabu (22/04).

Ia memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan Facebook, serta ulasan di Google Review untuk memperkenalkan homestay dan warungnya. Menurut Rahma, dampaknya terlihat pada tingkat hunian kamar. Pada musim sepi sebelumnya ia hanya menerima sekitar 4–5 tamu, sementara kini kamar hampir setiap hari terisi.

“Peningkatan tamunya sangat signifikan. Dulu jarang ada tamu karena kurang sinyal, sekarang tiap hari bisa penuh. Turis-turis merasa nyaman karena fasilitas internetnya berkualitas bagus dan stabil,” katanya.

Selain akses internet, Rahma juga mengandalkan kuliner lokal sebagai daya tarik. Ia menyebut menu khas seperti Ares menjadi andalan, dan ia memilih tidak menyediakan menu western agar kekhasan masakan keluarga tetap menonjol. Rahma menyatakan menu tersebut diminati tamu asing, terutama dari Belgia.

Rahma menambahkan, ia memberlakukan perbedaan harga bagi warga lokal. “Untuk tamu lokal, harganya berbeda, saya kasih half price (setengah harga). Saya buka dari jam 7 pagi sampai 12 malam untuk melayani warga lokal juga,” ujarnya.

Dari sisi biaya, Rahma menilai layanan internet program tersebut lebih efisien dibandingkan paket data seluler. Jika sebelumnya ia harus mengeluarkan biaya besar dengan koneksi yang lambat, kini ia mengaku cukup membayar sekitar Rp100 ribu per bulan untuk koneksi yang dapat dibagikan kepada tamu homestay.

Ke depan, Rahma menyatakan siap melanjutkan layanan internet secara mandiri setelah program bantuan berakhir. Ia menilai keberlanjutan akses internet penting untuk menjaga kepuasan tamu, yang menurutnya kerap menginap hingga dua minggu.