Indonesia Open Network (ION) resmi diluncurkan sebagai jaringan terbuka perdagangan digital yang ditujukan untuk memperluas akses pasar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tanpa ketergantungan pada satu platform.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan ION dirancang untuk menjawab sejumlah hambatan utama UMKM dalam ekonomi digital, terutama komisi yang tinggi, keterbatasan akses data, serta sistem platform yang tertutup.
“Banyak UMKM kesulitan masuk ke ekonomi digital karena biaya dan keterikatan platform. ION membuka pilihan agar pelaku usaha bisa ditemukan dan bertransaksi lintas aplikasi,” ujar Nezar dalam acara 12th Annual Indonesia Economic Forum di Jakarta Selatan.
Nezar menyebut potensi ekonomi digital Indonesia diproyeksikan melampaui USD 130 miliar pada akhir tahun ini. Ia juga menyoroti catatan transaksi digital, dengan lebih dari 6 miliar transaksi QRIS pada paruh pertama tahun ini. Namun, menurutnya, pertumbuhan tersebut belum dirasakan secara merata.
Di sisi lain, Indonesia memiliki 64,2 juta UMKM yang menyumbang sekitar 61 persen produk domestik bruto (PDB) dan menopang hampir 97 persen tenaga kerja. Meski demikian, Nezar menilai masih banyak pelaku usaha di luar kota besar yang belum memperoleh akses pasar digital secara adil.
Ia menegaskan ION dibangun sebagai jaringan terbuka dan terdesentralisasi. Melalui sistem ini, penjual, pembeli, dan penyedia logistik dapat terhubung lintas aplikasi tanpa terkunci pada satu platform digital.
“ION bukan super app. Ini jaringan terbuka. UMKM bisa menjual produk di banyak aplikasi sekaligus dan tetap memegang kendali atas usahanya,” kata Nezar.
ION juga disebut menjadi infrastruktur pendukung kebijakan perlindungan UMKM dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2023 tentang Perizinan Berusaha, Periklanan, Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha dalam Perdagangan melalui Sistem Elektronik. Menurut Nezar, sistem tersebut ditujukan agar prinsip keadilan usaha tidak hanya tertulis, tetapi berjalan di ekosistem digital.
Selain itu, ION disebut menjadi fondasi program Garuda Spark yang menargetkan pembinaan 2 juta wirausahawan teknologi. Nezar menyatakan, melalui jaringan ini startup dapat membangun layanan di atas jaringan nasional tanpa harus membuat platform tertutup baru.
Nezar menambahkan, ION dapat diarahkan sebagai bagian dari infrastruktur publik digital Indonesia untuk mengurangi kesenjangan digital, memperluas pilihan usaha, serta menjaga kedaulatan ekonomi digital nasional.