BERITA TERKINI
Iran Tuduh AS Sabotase Perangkat Jaringan Lewat Backdoor dan Botnet saat Konflik Memanas

Iran Tuduh AS Sabotase Perangkat Jaringan Lewat Backdoor dan Botnet saat Konflik Memanas

Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat melakukan sabotase terhadap jaringan internet di dalam negeri dengan memanfaatkan backdoor tersembunyi atau jaringan botnet yang diduga telah ditanam sebelumnya. Teheran mengklaim insiden itu terjadi bertepatan dengan berlangsungnya serangan militer baru-baru ini.

Tudingan yang mula-mula disorot media pemerintah Iran itu menyoroti kegagalan perangkat keras dari sejumlah vendor besar, termasuk Cisco, Juniper, Fortinet, dan MikroTik. Perangkat-perangkat yang dinilai krusial tersebut dilaporkan mengalami mati mendadak, melakukan reboot, atau terputus dari jaringan pada momen-momen yang disebut kritis.

Menurut laporan kantor berita Fars dan Entekhab, otoritas Iran menilai gangguan massal itu lebih mengarah pada dugaan sabotase tingkat tinggi ketimbang kesalahan teknis biasa. Rentetan masalah perangkat juga disebut terjadi ketika Iran sedang memutus sebagian besar koneksinya dari internet global.

Dalam penjelasan yang beredar, ada dua skenario utama yang dicurigai. Pertama, kemungkinan adanya “bom waktu” pada firmware, yakni kode berbahaya yang diduga disusupkan ke firmware atau bootloader sejak awal dan diprogram aktif pada waktu tertentu. Kedua, dugaan keberadaan botnet rahasia yang telah bersarang di perangkat-perangkat tersebut dan kemudian diaktifkan saat serangan militer dimulai.

Meski demikian, pembuktian independen atas klaim tersebut dinilai sulit dilakukan. Pemadaman internet yang diberlakukan Teheran justru membuat proses verifikasi dari pihak luar menjadi terhambat.

Organisasi pemantau jaringan NetBlocks mencatat krisis internet di Iran telah memasuki hari ke-50. Sementara itu, laporan Al Jazeera menyebut otoritas setempat hanya menyediakan akses terbatas melalui sistem “Internet Pro” dan “kartu SIM putih” khusus bagi kelompok tertentu.

Kecurigaan Iran juga dikaitkan dengan sejumlah catatan keamanan siber di masa lalu yang pernah menyeret vendor-vendor tersebut. Pada 2014, dokumen NSA yang dibocorkan Edward Snowden disebut menunjukkan intelijen AS pernah mencegat pengiriman router Cisco untuk memasang alat penyadap sebelum perangkat sampai ke pelanggan. Pada 2015, Juniper mengungkap adanya kode tidak sah di sistem ScreenOS yang berpotensi membuka celah akses jarak jauh serta memengaruhi aspek VPN. Fortinet pernah disorot terkait kredensial hardcoded pada sistem operasi lama, sementara perangkat MikroTik dilaporkan berulang kali ditemukan menjadi sasaran atau sarang botnet.

Di tengah memanasnya situasi geopolitik, media pemerintah dan badan siber Tiongkok turut menggemakan klaim Iran tersebut. Mereka menyebut insiden ini sebagai bukti bahwa Washington—bukan Beijing—yang disebut sebagai “negara adidaya backdoor” di ranah siber.

Hingga kini, pemerintah Amerika Serikat belum menyampaikan pernyataan publik resmi yang secara spesifik membantah tuduhan Iran tersebut. Namun, Washington sebelumnya telah mengakui pengerahan operasi siber khusus sebagai bagian dari kampanye militer dengan sandi Operation Epic Fury.