Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Alfreno Kautsar Ramadhan bersama Direktur Akselerasi Infrastruktur Digital Mulyadi melakukan kunjungan lapangan ke Desa Stanggor dan Desa Jeruk Manis, Lombok Timur. Kunjungan ini dilakukan untuk meninjau dampak program Kampung Internet terhadap transformasi ekonomi dan pendidikan di wilayah penerima manfaat.
Dalam peninjauan tersebut, Alfreno menyampaikan bahwa kehadiran akses internet fixed broadband disebut telah meningkatkan potensi masyarakat. Di Desa Stanggor, pemanfaatan internet mulai merambah sektor pendidikan dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurut Alfreno, pelaku UMKM di Desa Stanggor melaporkan kenaikan omzet hingga ratusan persen. Di sektor pendidikan, fasilitas sekolah mulai menggunakan smartboard untuk mendukung pelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Rombongan juga meninjau pelatihan teknisi fiber optik yang ditujukan agar masyarakat setempat dapat terserap sebagai tenaga kerja.
“UMKM di Desa Stanggor melaporkan kenaikan omzet hingga ratusan persen. Selain itu, fasilitas sekolah kini sudah mulai menggunakan smartboard untuk mendukung pelajaran TIK. Kami juga meninjau pelatihan teknisi fiber optik agar masyarakat setempat bisa terserap sebagai tenaga kerja,” ujar Alfreno kepada wartawan di Desa Jeruk Manis, Rabu (22/04).
Sementara itu, di Desa Jeruk Manis, internet disebut menjadi katalisator bagi sektor pariwisata. Alfreno mengatakan wisatawan mancanegara kini lebih lama tinggal di homestay dan berkunjung ke warung lokal karena tersedianya konektivitas yang stabil.
“Masyarakat sangat menikmati akses ini, dan kami berharap program ini dapat terus berkelanjutan,” tambahnya.
Direktur Akselerasi Infrastruktur Digital Mulyadi menjelaskan program Kampung Internet diposisikan sebagai stimulus strategis untuk mendukung target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Pemerintah menargetkan 90 persen kecamatan di Indonesia terkoneksi fixed broadband pada 2029.
“Saat ini cakupan kita berada di angka 72 persen. Untuk mencapai 90 persen di tahun 2029, pemerintah mendorong penyelenggara fiber optik melalui pemberian insentif dan penciptaan demand (permintaan pasar) di wilayah yang belum terjangkau,” kata Mulyadi.
Mulyadi menambahkan, pembuktian adanya kebutuhan internet yang tinggi di desa dinilai dapat meningkatkan ketertarikan operator untuk membangun jaringan. Ia menyebut fokus pemerintah mencakup tiga aspek, yakni cakupan (coverage), keterjangkauan harga (affordability), dan kualitas (quality).
Pemerintah juga menargetkan rasio harga layanan internet turun menjadi 2,5 persen dari PDB per kapita, dari posisi saat ini 4,5 persen. Dari sisi kualitas, pemerintah mengejar kecepatan hingga 100 Mbps.
“Kampung Internet ini adalah stimulus untuk memancing operator masuk. Dengan adanya persaingan antar operator, masyarakat akan diuntungkan dengan harga yang lebih murah dan layanan yang lebih baik,” tegas Mulyadi.
Pemerintah menyatakan akan terus menjalankan peran sebagai regulator dan fasilitator untuk mendorong pemerataan akses digital hingga ke berbagai wilayah di Indonesia.